KARANGASEM, BALI EXPRESS – Pelaksanaan upacara adat, baik skala kecil maupun besar, hampir setiap hari dilaksanakan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Tak heran salah satu desa Bali Aga ini selalu memiliki ritual yang beragam dalam tatanan kehidupan masyarakatnya.
Upacara Metukeh misalnya. Upacara ini digelar tiap tahun, pada Sasih Kawulu atau bulan ke delapan. Ini berdasarkan penanggal khusus di Desa Tenganan Pegringsingan. Krama atau warga adat akan menyiapkan beberapa sesaji yang dihaturkan ke hadapan Ida Bhatara Gunung Agung.
Salah seorang kelian Desa Tenganan Pegeringsingan, Putu Madri Atmaja mengatakan, upacara Metukeh ini digelar beberapa hari sebelum pelaksanaan Masegeh Gedebong (persembahan banten berbahan batang pohon pisang). Yang mana Masegeh Gedebong diadakan tiap tanggal 5 Sasih Kawulu penanggal Tenganan.
Madri Atmaja menegaskan, Metukeh dilaksanakan tiap pagi sekitar pukul 05.00 hingga prosesi selesai. Upacara tersebut sebagai upaya warga desa membersihkan lingkungan rumah masing-masing hingga karang desa dari hal-hal negatif. Mengingat rangkaian upacara juga dilaksanakan beberapa hari setelahnya.
Para wanita di tiap rumah akan menghaturkan banten itu di sebuah bale gede. Pentingnya upacara itu bagi warga setempat, sehingga Metukeh tak pernah ditiadakan meski apapun situasinya. Pihaknya yakin, jika salah satu unsur dikurangi, pelaksanaan upacara terasa kurang lengkap. Madri enggan merinci kemungkinan apa yang terjadi apabila upacara itu ditiadakan. “Intinya kami tidak berani meniadakan,” kata Madri, Rabu (18/8).
Pada tanggal 5 Sasih Kawulu, warga Tenganan kembali menghaturkan sesaji tiap pagi berupa Sanggah Gedebong. Batang pohon pisang dihias dengan beberapa pernak-pernik, seperti janur, bunga, sesaji, serta api. Sanggah itu ditanam di depan pekarangan.
Sanggah dihaturkan sebagai ucapan syukur atas berkah yang diperoleh warga adat. Sarana dihaturkan ke hadapan Ida Bhatara Gunung Agung, sebagai harapan agar alam, serta makhluk hidup dapat hidup seimbang. Dijaubhi dari hal-hal negatif. “Secara khusus batang pohon pisang ditanam terbalik sebagai simbol bahwa pisang berbuah tidak lebih dari satu kali,” kata Madri.
Editor : Nyoman Suarna