Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kajang tak Boleh Ditulis Orang Sembarangan

Nyoman Suarna • Sabtu, 28 Agustus 2021 | 14:32 WIB
Kajang tak Boleh Ditulis Orang Sembarangan
Kajang tak Boleh Ditulis Orang Sembarangan


Sebagai sarana ritual, kajang tentu tidak boleh dibuat oleh sembarangan orang. Kajang seharusnya dibuat oleh orang suci (pendeta), dan sejak pembuatanya melalui proses upacara agama, sampai terakhir menjelang digunakan sebagai penutup jenazah juga harus diupacarai dengan upacara mlaspas kajang atau upacara penyucian kajang.



Ida Rsi  Bhujangga Waisnawa Wiweka Natha mengatakan yang boleh membuat kajang biasanya Sang Sulinggih (dwijati), maupun orang yang ditunjuk/mendapat anugrah dari Sulinggih untuk nyurat kajang, atau orang yang sudah melewati proses pawintenan dan belajar nyastra atas bimbingan guru (sulinggih). Hal terpenting selain berguru adalah mendapat anugerah dari Hyang Bhatari Durga.



Kajang dirajah atau ditulis dengan sarana upakara tetukon yang selanjutnya mendapat Lingga tangan atau tapak tangan dan diakukan pemlaspasan oleh seorang Sadhaka atau Sulinggih.



Pihaknya juga tidak menampik, saat ini memang banyak ditemukan kajang yang disablon atau dicetak dengan menggunakan mesin sablon.Kondisi ini tak lepas dari kemajuan jaman dan teknologi yang membuat masyarakat serba instan.



“Sekarang kembali ke kemajuan jagat. Secara teori yang ditulis tangan yang becik (bagus, red). yang nulis itu Sulingih. Tetapi meskipun disablon, kan tetap juga ada upacara pasupati agar sakral, ngajum kajang, jadi tidak masalah. Memang ada orang yang lebih memilih menulis dengan tangan,” katanya.



Sebelum dapat digunakan sebagai sarana, terlebih dahulu dilaksanakan upacara Ngajum Kajang. Umumnya, upacara ngajum kajang dilakukan dengan cara menekan kajang itu sebanyak 3 kali, sebagai simbol kemantapan hati para keluarga dan menyatukan hati untuk melepas sang roh ke alam suniya loka.



Tuntas dengan upacara ngajum kajang, barulah kajang ini dinyatakan telah memiliki nilai spiritual atau daya magis. “Pada saat pemberangkatan jenazah menuju kuburan (Setra/Patunon) kajang ini diletakkan di atas jenazah yang diusung menggunakan wadah/bade, dan nantinya akan dibakar bersama jenazah,” pungkasnya. (habis)

Editor : Nyoman Suarna
#ngaben