Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ingkel dalam Wariga Bali, Berfungsi secara Ekologi Melestarikan Alam

Nyoman Suarna • Selasa, 31 Agustus 2021 | 14:46 WIB
Ingkel dalam Wariga Bali, Berfungsi secara Ekologi Melestarikan Alam
Ingkel dalam Wariga Bali, Berfungsi secara Ekologi Melestarikan Alam

Tak hanya memuat tentang sifat-sifat atau watak wewaran, tangggal panglong, wuku, maupun sasih. Wariga juga menguraiakan tentang ingkel, dalam kalender Bali. Menariknya dalam ingkel memuat tentang sejumlah pantangan agar tidak berbuat semena-mena kepada alam khususnya flora dan fauna.



Penyusun Kalender Bali, Gede Marayana, 72 mengatakan upaya pelestarian alam diatur dengan berpedoman pada ala ayuning dewasa, sehingga manusia tidak berbuat semena-mena terhadap alam. Dewasa mengenai ketentuan ingkel atau larangan yang sampai saat ini masih dipatuhi oleh masyarakat Bali sampai kini.



“Ingkel artinya pantangan atau larangan, yang biasa disebut dengan patining yang berarti pula kematian atau hal-hal yang berhubungan dengan bahaya. Hal-hal yang membahayakan akan menjadi larangan untuk menjauhinya,” ujar Gede Marayana kepada Bali Express (Jawa Pos Group).



Dikatakan Marayana, ingkel secara umum ada dua jenis. Yakni ingkel yang berlaku dalam satu minggu atau satu wuku dan ingkel yang berlaku hanya satu hari saja. Namun, yang paling sering digunakan oleh masyarakat di Bali adalah perhitungan ingkel berdasarkan selama satu wuku atau tujuh hari.



“Ingkel dimulai dari Redite sampai Saniscara sehingga sangat dipengaruhi oleh satu wuku. Kekuasaan wuku itu sangat berpengaruh dibandingkan dengan wewaran. Sebab, wewaran dikalahkan oleh pawukon,” imbuhnya.



Ada enam ingkel yang bersiklus dalam 30 wuku atau selama enam bulan. Sehingga, setiap ingkel dalam enam bulan masing-masing dapat dialami sebanyak lima kali secara konsisten. “Contoh kalau ingkel wong sudah pasti di Wuku Sinta dan seterusnya” jelasnya.



Ingkel Wong merupakan pantangan untuk melakukan pekerjaan penting-penting, Manusa Yadnya, Pernikahan dan pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan manusia. Ingkel ini jatuh pada Wuku Sinta, Wariga, Langkir, Tambir dan Bala.



“Artinya pada wuku-wuku ini dilarang untuk menggelar upacara manusa yadnya. Entah itu upacara perkawinan, atau metatah. Karena dianggap tidak bagus,” ungkapnya.



Kemudian Ingkel Sato merupakan pantangan untuk memulai memelihara binatang kaki empat atau wewalungan. Aktifitas ini umumnya dilakukan oleh masyarakat yang memulai kegiatan beternak. Seperti beternak babi, kambing, sapi. Ingkel Sato jatuh pada Wuku Landep, Warigadean, Medangsia, Medangkungan, Ugu.



Ingkel Mina merupakan pantangan untuk mengambil atau memindahkan dan memulai memelihara ikan. Ingkel Mina biasanya jatuh pada Wuku Ukir, Julungwangi, Pujut, Matal, Wayang.“Biasanya nelayan ada yang mmebuat jaring, membuat bubu, membuat kolam atau yang berkaitan dengan ikan tidak baik pada wuku ini,” paparnya.



Ingkel Manuk merupakan pantangan untuk mengambil atau memulai memelihara binatang unggas berkaki dua. Seperti beragam jenis burung hingga ayam. Ingkel Manuk jatuh pada wuku Kulantir, Sungsang, Pahang, Uye, Klawu.



Ingkel Taru merupakan pantangan untuk menanam, menebang, menempel pohon-pohonan sehubungan dengan bangunan. Ingkel Taru jatuh pada setiap wuku Taulu, Dungulan, Krulut, Menail, Dukut.



Ingkel Buku merupakan pantangan untuk menanam, menebang tanaman yang beruas, seperti tebu dan bambu. Ingkel Buku dapat ditemukan pada wuku Gumbreg, Kuningan, Merakih, Prangbakat, Watugunung.



Sebab, jika dilanggar, tanaman bambu ataupun tebu yang ditebang pada ingkel buku diyakini bisa membuat pohon bambu bisa mati atau ehep.



“Jadi ini bisa diartikan sebagai Taksonomi tradisional berdasarkan fungsinya. Dan ini bisa dimaknai sebagai bentuk pelestarian alam yang memperhatikan konsep ekologi,” bebernya.

Editor : Nyoman Suarna