Kelian Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna mengatakan, tradisi memunjung sudah dijalankan krama Desa Adat Buleleng secara turun-temurun. Krama biasanya datang ke Setra Desa Adat Buleleng seusai persembahyang di merajan dilaksanakan.
Mereka datang berbondong-bondong bersama anggota keluarga lainnya. Sesajen yang dinamakan banten punjung kemudian dihaturkan di atas gumuk (kuburan) kerabat yang telah meninggal. Prosesi ini biasanya dimulai dari pukul 05.00 Wita pagi sampai 10.00 Wita siang.
Usai sembahyang, anggota keluarga selanjutnya makan bersama di setra. Bahkan tidak jarang mereka membawa perbekalan berupa makanan kesukaan saat almarhum anggota keluarganya masih hidup.
“Krama meyakini makan bersama ini sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal. Menganggap seolah mendiang masih hidup dengan menghaturkan makanan kesukaannya,” jelasnya.
Sutrisna tak menampik, saat ini jumlah krama yang memunjung saat pagerwesi saban hari selalu mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena saat ada anggota keluarga yang meninggal biasanya langsung diaben. Sehingga kalau sudah diaben sudah pasti tidak perlu memunjung saat Pagerwesi.
Saat ini, sawa yang dikubur di setra Desa Adat Buleleng tak lebih dari 9 orang. Terlebih, Desa Adat Buleleng saat ini juga sudah mengelola krematorium sendiri di setra. Sehingga diyakini banyak krama yang melaskanakan kremasi saat anggota keluarganya meninggal.
“Apalagi saat ini banyak juga yang meninggal jasadnya langsung dibakar atau mekinsan di geni, sehingga semakin sedikit yang memunjung,” pungkasnya. Editor : Nyoman Suarna