Saat membersihkan semak-semak di lokasi tersebut, kata dia penglisngirnya menemukan sebuah goa yang panjang terowongannya sekitar 200 hingga 300 meter. Tepat di bagian atas ada sebuah lingkaran putih bulat sempurna menyerupai bulan sehingga pura tersebut diberi nama Pura Tirta Bulan.
Dan pada ujung goa, dulu terdapat sebuah patung Ida Dukuh Sakti dengan posisi berdiri kedua tangan bersatu di depan dada memakai udeng. Namun saat tebing longsor menyebabkan patung tersebut hilang secara misterius. "Sudah dicari tidak ketemu. Bahkan sebongkah pun tidak ada. Maka dari itu sekitar dua atau tiga tahun lalu kami membuat patung serupa untuk diletakkan di depan mulut goa," lanjutnya.
Lebih lanjut dirinya mengatakan jika goa tersebut sejatinya tembus sampai selatan, dan dipercaya dulunya merupakan saluran irigasi. Namun karena sempat longsor dan gempa, saat ini kondisinya tertutup. Dan pada Utama Mandala, terdapat sejumlah Pelinggih, mulai dari Pelinggih Ida Bhatara Tengahin Segara, Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped, dan Ida Bhatara Ratu Dukuh Sakti Lingsir.
Pura Tirta Bulan sendiri kini diempon oleh 13 KK, namun setiap pujawali tiba yakni pada Budha Wage Merakih, pemedek yang hadir sangat banyak bahkan dari luar Gianyar sekalipun. "Dulu pengemponnya hanya 5 KK berkembang menjadi 13 KK dan kini disungsung oleh krama Banjar Negari. Bahkan setiap kali pujawali, Budha Wage Merakih banyak pengayah yang datang dari krama luar Banjar. Ada dari Mawang, Silungan. Termasuk luar Gianyar juga banyak yang datang," bebernya.
Dan setiap rahina Purnama, Tilem, dan Banyupinaruh, Pura Tirta Bulan memang dijadikan alternatif untuk melukat. Pihaknya pun menyarankan pemedek yang hendak melukat untuk mengabari dirinya lewat telepon terlebih dahulu. Karena ia Jro Mangku tidak standby setiap saat di pura. "Jadi kita sarankan pemedek tangkil saat ada rahinan," tandasnya.(habis)
Editor : Nyoman Suarna