Dikatakan Jero Buda Nawa, ada tiga jenis sisik yang sering ia temui saat mengobati pasien sakit gigi. Ia merinci, ketiganya diantara sisik Nasi yang warnanya putih. Ada pula sisik Brahma (warna merah). Ada juga sisik Majic yang keluar ukurannya sebesar ulat nangka.
“Ini biasanya memicu sakit gigi yang luar biasa. Kalau sisik Majic ini rata-rata orang kena cetik, atau kene dedaaran istilah Balinya. Makanya, bisa sampai ke wajah bengkak, kadang sampai ke kepala sakitnya,” imbuhnya.
Namun, jika dilihat secara medis, Sisik atau ulat gigi itu biasanya masuk dari sela gigi dan melubangi dari samping. Kalau gigi terasa nyeri sehingga sering disebut gigi sensitif inilah yang menjadi gejala jika gigi sudah mulai terkena sisik.
“Memang tidak ada lubang, tetapi gigi terasa sakit. Itu tanda kuman belum masuk ke sumsum dan melubangi gigi. Cara mnegetesnya bisa pakai kumur dengan air es. Kalau nyeri, artinya sudah ada ulat gigi,” paparnya.
Ia menyebut pengobatan medudus memiliki kelebihan dibandingkan dengan bor gigi secara medis. Jika gigi di bor, berpotensi menjadi rusak, sehingga ulat belum tentu mati. Namun, kalau didudus, maka asap bisa masuk ke celah-celah gigi hingga membunuh ulat gigi.
Dalam sehari, rata-rata pasien sakit gigi yang berobat ke rumahnya berkisar antara 2-3 orang. Pasien datang dari berbagai pelosok Bali datang. Selain itu, ada pula pasien yang datang karena penyakit lain.
“Setelah medusdus, kami berikan pasiennya tirtra dan minyak usada. Minyak usada bisa diisi kapas untuk ditambal pada gigi yang berlubang. Kami juga sarankan selama 3 hari agar pasien yang sakit gigi tidak memakan daging babi dan ayam broiler,” pungkasnya.
Sementara itu, seorang pasien asal Singaraja, bernama Made Bagus Andi Purnomo mengaku sempat mengalami sakit gigi sejak beberapa hari. Pengobatan medis pun sudah ditempuh. Namun tak kunjung membuahkan hasil.
Justru giginya kian sakit. Ia pun memutuskan untuk menempuh jalur alternatif dengan pengobatan medusdus "Setelah medusdus, rasanya sudah lebih enak. Sakit sudah tidak muncul lagi," singkatnya. (habis)
Editor : Nyoman Suarna