DENPASAR, BALI EXPRESS - Pelaksanaan sembahyang khususnya dalam Panca Sembah tentunya menggunakan sarana kwangen. Memiliki fungsi, makna dan arti dalam penggunaannya, kwangen tak jarang umat Hindu yang kurang paham dalam maknanya. Padahal kwangen memiliki fungsi yang sangat fleksibel dan kompleks.
Seperti yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kemenag Gianyar, Dewa Ayu Antari menjelaskan kwangen merupakan simbol aksara keramat. "Makna kwangen merupakan simbol Om Kara yang merupakan lambang dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa," jelasnya, Minggu (3/9).
Disebutkan unsur pembentukan dalam pembuatannya memiliki cara tersendiri. "Seperti kojong, merupakan lambang ardha cadra, uang kepeng lambang windu, cili sebagai lambang nada, porosan silih asih lambang purusha dan pradana," ujarnya.
Dalam kesempatan itu Dewa Ayu Antari juga menjelaskan dalam panca sembah ditujukan kepada Dewa Ista Dewata. Yakni dalam persembahyangan yang ke tiga. Selanjutnya pada persembahyangan ke empat kepada Ida Sang Hyang Widhi sebagai pemberi anugrah. "Bahan -bahannya uang kepeng, porosan silih asih , bunga, busung, daun pisang," imbuhnya.
Sementara mantra saat sembahyang menggunakan kwangen dalam panca sembah, Dewa Ayu Antari pun memaparkannya. " Biasanya sembahyang diurutan ke tiga, yakni memuja istadewata, mantranya Om namo devaya adhistanaya Sarva vyapi vai sivaya Padmasana eka prathistaya Ardhanaresvarya namah svaha," paparnya.
Serta sembahyang urutan ke empat kepada Sang Hyang Widhi sebagai pemberi anugrah. Mantranya ia sebutkan Om nugrahaka manohara, Deva dattanugrahaka, Arcanam sarva pujanam, Namah sarvanugrahaka, Om Deva devi mahasiddhi yajnangga nirmalatmaka, Laksmi siddhisca dirgahayuh Nirvighna sukha vrddhisca.
Jika dilihat dari segi persembahyangan kwangen dapat digunakan untuk sembahyang baik pada panca sembah maupun yang lainnya. "Dari segi upacara banyak upacara di Bali yang menggunakan kwangen seperti dalam panca yadnya, maupun dalam upacara manusia yadnya seperti ngaben, pitra yadnya serta yang lainnya," tandas Dewa Ayu Antari.
Editor : Nyoman Suarna