Memutru menjadi salah satu ritual yang penting dilskanakan saat upacara pitra yadnya, seperti memukur dan ngaben. Diyakini, memutru sebagai pelengkap puja pendeta untuk mengantarkan roh leluhur untuk mencapai surga.
I Nyoman Ariyoga, M.Pd, mengatakan memutru biasanya dibacakan pada saat upacara ngaben dan memukur. Teks putru yang dibacakan umumnya berasal dari Lontar Putru Pesaji. Pembacaannyapun disebutnya bukan dari kalangan sembarangan.
“Saat mamutru, teks putru dibaca dengan lantunan palawakya. Tanpa disertai terjemahan dan ulasan. Berbeda dengan tradisi mabebasan yang biasanya ada nguacen, negesin dan wirasa,” jelasnya.
Orang yang membaca putru atau memutru dipastikan sudah melaksanakan upacara pawintenan. Bahkan sudah melalui upacara eka jati maupun dwi jati. “Sebelum memutru biasanya orang wajib membersihkan diri, melakukan puasa satu hari dengan tidak makan daging. Ini karena untuk menumbuhkan sifat sifat satwam saat memutru,” paparnya.
Dikatakan Ariyoga, walaupun dalam Lontar Putru Pasaji dijelaskan bahwa upacara kematian atau pitra yadnya dengan menghaturkan sesaji tertentu dapat mengantarkan pitara menuju surga. Tetapi penentu keadaan pitara di kehidupan setelah kematian adalah perbuatannya sendiri atau karma.
Hal ini ditunjukkan dengan uraian tentang gunung pitu yang menggambarkan hukuman atau siksaan bagi pitara yang dalam kehidupannya melakukan pelanggaran moral tertentu. Demikian pula gambaran tentang surga selalu dikaitkan dengan karma sang pitara semasa hidupnya.
Dalam lontar ini disebutkan ada ikan/daging yang dilarang untuk dijadikan persembahan, karena akan menghilangkan kesucian sehingga kembali pada papa dan neraka. Dalam Pitra Yadnya, ada banyak jenis ikan yang dapat dijadikan persembahan kepada sang pitara.
Hubungan sesaji dan pahala dalam Putru Pasaji dibedakan menjadi dua, yaitu sesaji yang pahalanya berupa kualitas kelahiran dalam reinkarnasi dan sesaji yang pahalanya berupa durasi kesenangan yang dinikmati pitara di surga,
“…, persembahkanlah bubur sasuru, pahalanya terlahir menjadi manusia utama, nasi putih menjadi perwujudan dharma manusia bijaksana, nasi merah termahsyur di dunia, nasi kuning memiliki banyak keturunan, nasi hitam memiliki banyak emas, ditambah pelayan dan harta benda, semua benih yang ditanam akan berkembang biak dengan baik,…”
Lamanya kesenangan yang dapat diberikan oleh masing-masing ikan berbeda. Ikan laut kualitasnya paling rendah karena dapat memberikan kesenangan hanya selama satu bulan. Sedangkan ikan/daging yang kualitasnya tertinggi adalah badak, karena akan dapat memberikan kesenangan selamanya di sorga.
“Ikan tengiri dan kakap memberikan kesenangan selama 1 bulan; burung belibis, ijowan, wanten, kadawa, kaliliŋan, ayam hutan, wuru-wuru, perkutut, balam, dan tekukur memberikan kesenangan selama 2 bulan; kijang, menjangan, dan kancil memberikan kesenangan selama 3 bulan; kerbau hitam dan itik memberikan kesenangan selama 4 bulan; landak, trenggiling, dan ruti memberikan kesenangan selama 5 bulan;
biri-biri memberikan kesenangan selama 6 bulan; kurakura, empas, wakung, penyu, dan kurakura kuning memberikan kesenangan selama 7 bulan; babi hutan selama 8 bulan; tawon madu selama 9 bulan, perahan susu, mentega, dan minyak memberikan kesenangan selama 10 bulan; apabila badak, baik kulit, daging, darah, tulang, maupun giginya memberikan kesenangan selamanya di surga”
Selain itu, dalam Putru Pasaji juga disebutkan jenis-jenis sesaji yang tidak boleh dipersembahkan kepada pitara karena mengakibatkan kesengsaraan, hilangnya kemuliaan, dan memperoleh siksaan neraka. Hewan itu diantaranya lutung, kera, alap-alap, elang, ular, musang, rusa, babi rumahan, anjing, buaya, harimau, kadal, luwak, tikus, wulung, dan ayam. (bersambung)
Editor : Nyoman Suarna