Secara filosofis, Tirta Sidakarya, tidak bisa lepas dari sarana upakara yang dipergunakan untuk nuur Tirta Sidakarya. Seperti sesayut Sidakarya dan tipat sidakarya. Sesayut merupakan salah satu jenis banten/upakara yang sering digunakan oleh Umat Hindu dalam upacara Panca Yajña.
Banten sesayut diambil dari kata”Sayut” atau Nyayut” yang dapat diartikan sebagai mempersilahkan atau mensthanakan. Karena sayut disimbulkan sebagai lingga dari Ista Dewata, sakti dari Sang Hyang Widhi.
Sesayut Siddhakarya adalah sebagai tempat mensthanakan Ista Dewata yang merupakan sarana untuk memohon waranugraha berupa Tirta Sidakarya yang akan digunakan sebagai penyiddhakarya supaya upacara Dewa Yadnya berjalan lancar.
Selain sesayut ada pula ketupat dimaknai sebagai cerminan dan rasa sradha dan bhakti seorang bhakta kehadapan Hyang Widhi Wasa. Sebagai wujud bhakti dituangkan dan diciptakan dalam berbagai bentuk ketupat, seperti ketupat taluh, ketupat gong, ketupat gelatik, ketupat nasi, ketupat bagia, ketupat siddhakarya dan sebagainya.
“Bila dikaitkan dengan tipat siddhakarya, maka makna filosofis adalah wujud persembahan yang dilandasi oleh rasa bhakti, cinta kasih yang tulus dan suci dengan harapan supaya segala upacara yang dilaksanakan dapat berakhir dengan sukses atau siddha,” paparnya.
Dibutuhkan sebuah keyakinan terhadap makna dan fungsi Tirta Sidakaryaitu sendiri. Keyakinan ini sebut Suardika diimplentasikan dalam setiap upacara Dewa Yajna, khususnya dalam setiap upacara pujawali (piodalan) dalam semua tingkatan baik itu nista, madya ataupun uttama.
Sebab upacara tidak tidak hanya bisa dilihat dari besar kecilnya sarana upakara yang digunakan melainkan dari sifat yajna itu sendiri. Entah itu satwika yajna (yadnya bersifat satwam), rajasika yajna (berifat rajas) dan tamasika yajna bersifat tamas
“Meyakininya hanya dengan cara selalu menggunakan Tirta Sidakaryadalam setiap pelaksanaan upacara Dewa Yajna. Sehingga tercapainya kedamaian dan kebahagiaan di dunia dan juga kepuasan bathin kepada sang yajamana atau atmanastuti,” pungkasnya. (habis)
Editor : Nyoman Suarna