Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Ajaran Kepemimpinan Hindu dalam Lontar Nitipraya

I Putu Suyatra • Jumat, 12 November 2021 | 19:05 WIB
Begini Ajaran Kepemimpinan Hindu dalam Lontar Nitipraya
Begini Ajaran Kepemimpinan Hindu dalam Lontar Nitipraya

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Lontar Nitipraya menjadi salah lontar yang mengupas kepemimpinan dalam agama Hindu. Sifat-sifat seorang pemimpin, ciri-ciri pemimpin yang disenangi rakyat atau bawahannya, diulas semua. Ajaran dalam lontar inipun dinilai masih sangat relevan dengan situasi kekeinian.


Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja Nyoman Ariyoga mengatakan, Lontar Nitipraya berbentuk sloka yang diberikan oleh Bhatara Wisnu kepada Bhagawan Dwaipayana. Ajaran yang diberikan disebut Siksakarya yang berarti burung gagak dan ayam jantan.


Lontar Nitipraya pada hakikatnya adalah wejangan suci yang diturunkan oleh Bhatara Wisnu kepada Bhagawan Dwaipayana. Wejangan suci yang diturunkan itu berbentuk sloka. Intisari dari wejangan suci itu disebut Siksakarya. Siksakarya adalah ajaran tentang perilaku burung gagak (gagak) dan ayam jantan (sawung) yang patut dicontoh oleh seorang pemimpin.


Hal itu dapat dilihat pada lempir 3b yakni: Yayi Rahadian Suparka, lamun sira aneniun, hana ta yayi sarining nitipraya, slokakekana iku yayi, saking Bathara Wisnu tinibakenikang sloka, katanggapan de Sri Dwaipayana. Mangketa yayi pirengwakena denira punika ta unining sastra supatania. Siksakarya, wahyania, ika yayi tegesnia, gagak lawan sawung.


Terjemahannya: Dinda Raden Suparka, jika engkau ingin tahu, intisari Nitipraya, itu diwahyukan dinda, oleh Bathara Wisnu berupa sloka, diterima oleh Bhagawan Dwaipayana. Sekarang dengarkanlah olehmu dinda, ketahuilah bunyi ajaran yang baik, Siksakarya, nama wahyu itu, itulah dinda artinya, yaitu burung gagak dan ayam jantan.


Dikatakan Ariyoga, tingkah laku burung gagak yang pantas ditiru oleh seorang pemimpin menurut lontar Nitipraya, di antaranya, jika berbunyi cukup keras dan menakutkan, bukan ingin mengatakan tentang kematian dan pembunuhan melainkan hanya mengabarkan atau memberi suatu peringatan.


Lamunia muni maweh sangsaya, tan angajarakena patining apati, kewali amarahakena saung pakeling. “Artinya pemimpin harus selalu waspada, cekatan dalam memberikan peringatan yang mengancam wilayahnya. Kalau dalam konteks kekinian, misalnya, baru ada gempa bumi, sudah ada pemberitahuan, ada potensi tsunami atau tidak,” imbuhnya.


Seorang pemimpin jika sedang berhadapan atau berbicara dengan seseorang perhatikan dengan seksama (yan sedeng sunupan ikang wang, ika ta yayi unggwaning kasariraha). Tidak berbuat dosa kepada bawahan dan sanak keluarganya (aywandosani bala mwang kula santana).


Tidak membunuh secara sembarangan kepada orang yang tidak berdosa (aywa gaman papati yan tan padosa). Jika ingin menjatuhkan hukuman, termasuk hukuman mati. Yang pantas dibunuh adalah keangkaramurkaan di muka bumi (lamun trape dosa pati, yogia patianana, kakaranikang bumi).


Pemimpin memahami Tri Bhujangga, yaitu tiga dosa yang dilakukan seseorang dan memberikan hukuman sesuai dengan dosa yang dilakukannya (ananem tribhujangga, iku ta kang angawruhi pratingkahing dosaneng bala, yan adosa kalawan pwa tan padosa, yan adosa sajeng lalawuh, tuten dosa sajeng lalawuh, yan andosarta, tuten kang dosa arta, yan adosa pati, tuten dosa pati);


Mampu melihat dan mengamati keadaan pasukan/bawahannya serta tanggap terhadap keadaan rakyatnya yang kelaparan dan hidup sengsara (kewalia ikang gagak terus tingal, den wruh anarirakena, den wruh ing adoh aparek, den wruh angateni bala, den uningana ring wadwa lara, mwang lapania). “Seperti pandemi saat ini, pemimpin sedang diuji. Apakah pemimpin  mampu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi rakyatnya. Mulai dari pangan, ekonomi, kesehatan hingga lapangan pekerjaan,” paparnya.


Tidak tanggung-tanggung dalam memberikan derma kepada rakyat yang berhak menerimanya (aywa kapalang-palang pasungsungira, apan ring anguninga wadya adoh aparek, atmaraksa ranina wengi, aparek deniangiring rahina wengi, kangelan, kodanan, kapanasan); Tidak mengurangi hak bawahan dan rakyatnya, karena hal itu merupakan perbuatan hina (aja sira wawangambuncala prabeya, pradenipun kahelian mene pwarania); Memberikan hadiah dan harta benda kepada bawahan yang berhasil melakukan tugas dengan baik dan tidak mengurangi sedikitpun hak-hak mereka (lawan hana malih pewarania, ring wadwamidika jajahaning musuh, sungana dana prabeya pada amangke, aja sira wawang ambuncala rabeya, pradenia kahelian mene pwarania). “Kita sering melihat pemimpin sekarang biasa memberikan penghargaan kepada bawahannya. Itu bagian dari reward atas kesuksesan dalam menjalankan tugas,” imbuhnya.


Tidak suka berkelahi, tidak bermain wanita, dan tidak berhati jahat (sampun acarancah, sampun wawadonen, sampun walahati); Tidak meminta atau merampas milik pasukan/anak buah, meskipun itu lebih baik daripada milikmu (yan hana dreweaning wadwanira, ayo dera karepakena); Bisa menghargai kelebihan orang (den wruh angajeni gunaning wong). “Mau memperhatikan kehidupan sang pendeta dengan memberikan dana punia, menyenangkan hatinya, dan memberikan ucapan yang manis,” ungkapnya.

Editor : I Putu Suyatra