SINGARAJA, BALI EXPRESS – Alam surga dan neraka yang kerap diperbincangkan di masyarakat memang merupakan topik yang tak ada batasnya. Banyak pula buku-buku yang membahas mengenai kehidupan atau pun alur cerita di surge maupun neraka. Namun apakah surga dan neraka itu benar adanya? Mungkin saja benar, mungkin saja tidak. Selain pada ulasan buku, gambaran surga dan neraka pun kerap nampak pada bangunan-bangunan di Bali. Seperti Pura Dalem maupun setra (kuburan). Seperti halnya di setra Desa Adat Buleleng. gambaran mengenai dua dunia di alam baka itu pun terpampang pada ukiran-ukiran relief. Dari ujung utara tembok penyengker (pagar) setra hingga ujung selatan mengisahkan bagian-bagian alam surga dan neraka.
Alam surga yang penuh dengan berkah serta anugrah digambarkan pada relief sebelah utara. Relief pertama mengisahkan sebuah pertemuan antara Bima dengan saudaranya Sang Dharmawangsa yang akan menuju ke surga. Pada relief itu terdapat dua sosok yang mengenakan mahkota serta di tengah-tengah terdapat sebuah gedong dengan pintu yang terbuka.
Yang kedua, terdapat gambaran masyarakat dengan membawa persembahan seperti buah-buahan serta hasil bumi lainnya. Pada relief itu diceritakan masyarakat yang hidupnya benar-benar aman dan nyaman. “Benar-benar tenteram. Tidak ada gangguan apa-apa. Dari sini dapat dilihat dalam melaksanakan upacara persembahan kepada Tuhan. Bisa dilihat di relief ini ada lambang pelinggih Bhatara Surya. Ini gambaran bagaimana kita melakukan persembahyangan yang tulus iklas. Ini merupakan timbal balik, apa yang dianugrahkan oleh Tuhan, kita sampaikan kembali kepada-Nya sebagai ungkapan rasa terima kasih,” tutur Jro Dalang Nyoman Rugada, Prajuru Desa Adat Buleleng.
Relief yang ketiga terdapat gambar manusia berkumpul, menyembah lambang dewa. Ukiran relief itu adalah gambaran dari roh-roh yang telah terbebas dari hukuman dan memohon agar dapat menyatu dengan Sang Hyang Acintya atau yang tak terpikirkan. Keempat adalah relief gambaran manifestasi Ida Sang Hyang Widhi dalam wujudnya sebagai Dewa Siwa. Di bawahnya terdapat beberapa sosok yang bersujud menandakan ungkapan terima kasih. “Siwa adalah yang tertinggi dlam ajaran kita di Hindu. Beliau adalah pelebur. Mengembalikan semuanya. Siwa adalah pemegang kekuasaan tertinggi,” jelasnya.
Selanjutnya gambaran surga pada relief kelima adalah sosok Tri Murti. Pada relief itu terdapat Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Ketiga sosok tersebut diinterpretasikan menunggangi kendaraannya masing-masing. Dewa Brahma dengan menunggai angsa, Dewa Wisnu dengan Garuda serta Dewa Siwa dengan lembu. “Tri Murti inilah yang menentukan ada Upetti, Stiti dan pralina. Siklus ini akan terjadi kepada siapa pun tanpa mengenalkasta dan status sosial. Sebab di mata Tuhan semua sama,” tambahnya.
Disamping relief Tri Murti terdapat relief yang menggambarkan tujuan dari agama hindu yakni Moksartam Jagaditha Ya Caithi Dharma. Pada relief itu terukir dua sosok yang tengah bersemedi. Diatasnya terdapat simbol paraatman. Di sini digambarkan bagaimana memusatkan pikiran untuk dapat mencapi moksa. Sosok yang bersemedi itu adalah roh. Bagaimana mereka menuju moksa sesuai dengan tujuan agama hindu. “Apakah surga itu hanya ada di alam maya? Apakah di dunia nyata ada surga? Tentu ada. Suatu kebahagiaan dan segala berkah yang kita nikmati adalah surga. Tetapi kadangkala, surga itu dapat berbalik menjadi neraka bila kita kurang hati-hati,” tegas Dalang Rugada.
Pada relief ketujuh adalah gambaran alam semesta dengan Sang Hyang Acintya sebagai porosnya. Pada relief ini digambarkan sebuah metamorphosis dari kehidupan makhluk di bumi. “Perputaran alam semesta itu terus berputar. Terus bereinkarnasi. Tidak pernah berhenti barang sedetik pun. Jika seandainya alam semesta ini berhenti berputar satu per satu juta detik saja maka dunia ini akan hancur,” kata dia.
Relief selanjutnya adalah gambaran musyawarah yang dilakukan oleh Sang Suratma. Dengan disaksikan para dewa, nampak sosok roh tengah dihakimi untuk memutuskan apakah roh tersebut akan pergi ke surga atau kea lam neraka. “Ini adalah jalan pemutusan. Setelah alam surga ada yang namanya alam neraka. Apakah di dunia nyata ada neraka? Tentu ada juga. karena manusia dari lahir pasti berbekal Suka Duka Lara Pati,” imbuhnya.
Dan relief inti dari bagian luar Setra Buleleng itu adalah tiga buah sosok besar yang diukir tersendiri. Di tengah-tengah adalah Sang Hyang Suratma kemudian diapit dengan Sang Jogor Manik di sisi kiri dan kanannya. Tiga sosok inilah yang menentukan tempat berakhirnya para roh. “Sang Suratma ini yang mencatat semua perbuatan kita. Dari lahir sampai meninggal,” ujarnya.
Setelah menjelaskan alam surga yang berada di sisi utara, Jro Dalang Rugada lenjut menerangkan alam neraka yang berada di sisi selatan. Relief pertama dari alam neraka adalah gambaran kawah panas. Terukir sosok yang yang tengah menghukum roh dengan cara direbur dalam kawah dengan bara api yang berkobar di bawahnya. Dalam kawah nampak ukiran para roh yang melambaikan tangan tanda meminta pengampunan. “Ini kawah. Mereka para roh direbus disini. Ini adalah roh-roh yang semasa hidupnya berprilaku tidak baik. Misalnya mencari ilmu hitam, mempelajari hal yang mistik dan mencelakai orang lain. Beginilah gambaran hukumannya,” terangnya.
Kemudian relief kedua alm neraka adalah gambaran sosok roh yang dihukum karena semasa hidupnya bersifat kikir. Tidak pernah membantu orang lain maupun bersedekah. Pada relief itu tergambar beberapa roh yang tengah menggotong peti. Peti itu dibaratkan kotak harta benda milik si roh.
Berikutnya ada relief sosok anak kecil dan sosok ibu. Pada relief itu sosok anak kecil dan sosok ibu ini berusaha salaing meraih tangan satu sama lain. Kedua sosok ini berjalan pada sebuah titi atau jembatan. Titi tersebut menurut Dalang Rugada adalah titi pegat. “Di sini diceritakan bagi seorang wanita yng semasa hidupnya menggugurkan kandungan. Jadi anak kecil itu diibaratkan anaknya yang digugurkan dan akan berwujud di alam sana. Dia memanggil ibunya melewati titi. Setelah sampai di tengah maka si anak akan melepaskan si ibu. Si ibu akan jatuh ke kawah panas. Sementara si anak akan naik,” terangnya.(bersambung)
Editor : I Dewa Gede Rastana