Ada tiga bentuk Rerajahan Semara Ratih sebagai penolak desti dalam upacara metatah diantaranya Semara Ratih, Padma, Aksara Ah Ang. Ketiga rerajahan tersebut menjadi satu dalam tikar plasa di bale penatahan.
Semara ratih sebagai lambang ardenareswari atau sangyang semara jaya lan sangyang ratih .Bunga Padma sebagai lambang asta aiswarya yaitu Kemahakuasaan, kekuatan tertinggi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Rerajahan Semara Ratih terdiri dari tri angga (utamaning angga, madyaning angga, nistaning angga)
Sedangkan, aksara Ah dan Ang menurut lontar Penglukun Dasaksara sebagai lambang rwa Bineda atau Kiwa Tengen/akasa pertiwi.Waktu ngerajah pagi hari saat awal metatah dimulai, dengan sarana tikar plasa dan spidol.
Saat ngerajah yang digunakan oleh Sangging wajib menghaturkan Banten pejati jangkep, peras, penyeneng, daksina, suci, sodaan soroh, ketipat kelan, segehan, dalam 1 dulang. “Sarana ini digunakan sangging untuk memohon anugrah,” jelas Dosen Filsafat, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Made Gami Sandi Untara, S.Fil.H, M.Ag.
Dalam lontar Rsi Sambina disebutkan jika Rerajahan Semara ratih dalam upacara metatah mengandung makna Ardhanareswari laki-laki dan perempuan/purusha dan predana turun kedunia menciptakan alam semesta sebagai perlambang cinta kasih.
“Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabawa Sang Hyang Semara Ratih turun kedunia senantiasa sebagai lambang purusha dan predhana menciptakan alam semesta sebagai perlambang cinta kasih,” paparnya.
Sedangkan dalam Lontar Bhuana Kosa, aksara Ang-Ah, mengandung makna purusha predana. Kedua aksara suci ini Ang, Ah merupakan dua aksara yang berbeda atau bertentangan, oleh sebab itu dwi aksara ini disebut pula rwabhineda. Aksara suci Ah merupakan paragayan (stana) purusha dan aksara Ang, merupakan paragayan predana.
“Purusha adalah atma (jiwatma) dan predana adalah badan kasar (raga sarira, stula sarira). Atma atau purusha adalah sosok yang tidak tampak (niskala), sedangkan raga sarira merupakan tubuh manusia yang tampak (sekala),” pungkasnya.(habis)
Editor : I Dewa Gede Rastana