SINGARAJA, BALI EXPRESS - Penekun spiritual Jro Putu Agus Panca Saputra alias Jro Panca menyebutkan ada banyak jenis pepasangan, termasuk level dan tingkatan pepasangan pun ada pengklasifikasiannya. Sehingga dibutuhkan tata cara mengatasi untuk menetralkan kembali pekarangan rumah yang diisi pepasangan.
Dikatakan Jro Panca, penghuni rumah bisa melakukan sejumlah cara agar terhindar dari serangan pepasangan, teluh, desti, dan teranjana yang dikirim orang untuk bermaksud jahat.
“Disarankan agar tidur di lantai dengan kasur. Sebab, santet, guna-guna, dan apapun bentuknya, tidak akan bisa menyerang kita kalau posisinya tidur tidak di ranjang. Karena makhluk tersebut posisinya amusti dari atas tanah, sehingga kita tidak akan kena selama tidur di lantai,” ungkapnya.
Lalu, bagaimana cara jika pekarangan rumah sudah berisi pepasangan? Dikatakan Jro Panca, bisa menggunakan sarana injin atau ketan hitam yang disangrai. Kemudian sarana tersebut ditaburkan di areal pekarangan. Sarana injin yang disangrai bisa meredam energi negatif.
Selain sarana injin, menetralkan pepasangan juga bisa dilakukan dengan sarana air cucian beras (banyu) yang pertama. Air banyu berwarna putih pekat itu kemudian ditambahkan dengan sarana pucuk daun kelor tiga pucuk dan daun ilalang sembilan helai. Sarana tersebut diikat dengan benang tridatu.
“Saat kita ikat, mohonkan kepada penunggun karang. Putarannya ke kiri, tujuannya peleburan. Ini bisa dilakukan setiap hari, untuk mengantisipasi adanya pepasangan dan memudarkan pengaruhnya,” katanya.
Ada juga penggunaan sarana berupa garam wuku. Secara struktur, garam ini berukuran besar dan berbentuk segi empat. Garam ini ditambahkan dengan abu yang diambil dari prapen pande. Selanjutnya diayak, dicampurkan dengan pamor dari batu karang, kemudian dimasukkan ke dalam payuk ari-ari. Bisa juga menggunakan sarana air campuhan di laut dengan air sungai. Cara menuangkannya harus berurutan.
“Di sana dimohonkan kepada Ida Sang Hyang Widhi agar pekarangan bisa dinetralisir,” sarannya.
Ia menambahkan, menetralkan sarana pepasangan bisa menggunakan sarana banten. Seperti banten prayascita, banten caru eka sata untuk dihaturkan kepada para bhuta dan juga sarana segehan agung.
Pepasangan akan mudah masuk apabila penunggun karang mengizinkan. Untuk itu, ia menyarankan agar penghuni rumah senantiasa sering menghaturkan sesajen untuk penunggun karang. Sehingga yang berstana ikut menjaga keselamatan rumah dan penghuninya. Termasuk juga sikut satak atau ukuran pintu gerbang rumah juga berpengaruh terhadap mudah sulitnya pepasangan masuk ke dalam rumah.
“Pepasangan yang kasar biasanya cepat terlihat. Tetapi kalau pepasangan yang halus, maka dia akan lama prosesnya, tetapi dampaknya bisa sangat fatal dan menunggu momen,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra