Ritual yang dilakukan bagi petani di sawah jenisnya beragam. Pemujaan ini sebagai symbol wujud syukur atas kesejahteraan yang diberikan dari Dewi Sri kepada petani. Tak terkeceuali pada ritual Mebiyukukung yang dilaksanakan saat padi mulai “bunting” atau berbuah.
Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardiyasa, M.Pd mengatakan, ritual mebiyukukung sejatinya sudah dilaksanakan secara turun temurun oleh petani padi di Bali. Ritual ini juga terungkap pada Lontar Bhagawan Sukra.
Suka yang juga akademisi Prodi Sastra Agama dan Pendidikan Bahasa Bali, STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini menuturkan mebiyukukung berasal dari bya ‘prabea’ dan kung ‘kasmaran’. Dalam hal ini biyukukung dimaknai sebagai patemoning sukla lawan swanita, kama bang lawan kama putih.
“Ritual byakukung ini adalah ritual untuk tanaman padi yang mulai ngidam (beling). Atau upacara (ritual) saat tanaman mulai mengandung. Termasuk juga bertujuan untuk menghilangkan bahaya yang mengganggu tanaman padi yang sedang hamil (berisi) dan siap untuk melahirkan,” jelasnya.
Pada Lontar Bhagawan Sukra, disebutkan seperti berikut; “Nyan tingkahing nandur pari ring sawah, yayan nuasen iki wilangan bulih…, iki mantranya “Ong anasira Rsi Gana rupa kadiliman matadumilah angilangakena sasab merana wigenaning pari. Ong Ung Pat, iki bantenya cawu petik 6 (nenem), cawu mumbul 1 (asiki)”.
Sampun matuwuh duang puluh dina; nasin pulung 4 (papat), ketipat pandawa 2 (dadua), matuwuh duanglek blayag 6 (nenem), katipat genep 1 (asiki), asem, punyan phala, klungah kinasturi, matuwuh tiganglek majerimpen abyukukung ngaranya…, iki mantran banten mabyukukung
“Pakulun Bhatara Sri sangayusa maduning dukut ira nini angirutaken Sri kabeh, Ong Sanghyang Sika tan koya langgana irutaken parisawah angetana paraknarigaga sawah ingulun, Sang Metri tan koya langgana angirutakena parisawah anglone parakena rigaga sawah inghulun, Sang Kurusya tan koya langgana irutakena parisawah anglone parakna rigaga sawah ingulun, ri madya Sang Pretenjala araningulun ong astu swaha”
Terjemahannya: Kalau hendak bercocok tanam padi disawah inilah hal-hal yang harus diperhatikan; pada saat mulai menanam padi (nuasen) ini jumlah bibit yang harus di tanam…, ini mantranya “Ong anasira Rsi Gana rupa kadiliman matadumilah angilangekena sasab merana wigenaning pari, ong ung pat. Ini banten/ upakaranya; cawu petik 6 (enam), cawu mumbul 1 (satu)”.
Sesudah padi berumur duapuluh hari, ini upakaranya; nasi pulung 4 (empat), ketupat pandawa 2 (dua), berumur dua bulan, ini upakaranya; blayag 6 (enam), ketupat genep 1 (satu), asem, pohon phala, klungah kinasturi, dan sesudah padi di sawah berumur 3 bulan (hamil) upacara abyukukung/mabyukukung namanya;
Ini mantranya “Pakulun Bhatara Sri sangayusa maduning dukut ira nini angirutaken Sri kabeh, Ong Sanghyang Sika tan koya langgana irutaken parisawah angetana paraknarigaga sawah ingulun, Sang Metri tan koya langgana angirutakena parisawah anglone parakena rigaga sawah inghulun, Sang Kurusya tan koya langgana irutakena parisawah anglone parakna rigaga sawah ingulun, ri madya Sang Pretenjala araningulun ong astu swaha”.
Dikatakan Suka, bila merujuk Lontar Bhagawan Sukra, maka mebiyukukung memiliki harapan agar para petani sawah mendapatkan hasil yang baik dan sesuai dengan harapannya. Dimana, padi yang sedang mengandung disawah atau pertemuan asmara antara kepala putik dengan tepung sari dan berlanjut terjadinya pembuahan, berhasil dan selamat.
Asmara yang dimaksud adalah asmara antara Bhatara Sri dengan Bhatara Wisnu. Di dalam tumbuhan padi, asmara yang dimaksud adalah pertemuan antara putik dengan tepung sari yang terjadi dalam proses pembuahan.
“Petani pasti berharap agar padi yang sedang dipelihara dapat mengalami pertumbuhan lebih lanjut. Harapannya, padi dapat mengandung buah sehingga bisa dipanen dengan hasil yang bernas dan padat,” ungkapnya. (bersambung)
Editor : I Dewa Gede Rastana