Akademisi STAHN Mpu Kuturan, Ayu Veronika Somawati mengatakan, tumpeng dilihat dari bentuknya merupakan sarana upakara yang berbahan dasar nasi yang berbentuk krucut. Dilihat dari bahan dasarnya sudah jelas bahwa hendaknya bahan yang digunakan dalam pembuatan tumpeng adalah nasi.
Mengapa mempersembahkan nasi? Dikatakan Veronika Somawati, ini dilakukan dengan tujuan agar selesai upakara tersebut dipersembahkan lungsurannya dapat dinikmati sebagai prasadham. Menikmati lungsuran atau prasadam setelah selesai persembahyangan merupakan bentuk lain dari cara bersyukur atas anugrah Tuhan dan para leluhur.
“Segala makanan yang sudah dipersembahkan sebelum dimakan merupakan dapat membebaskan manusia dari dosa dan sebaliknya ketika memakan makanan yang belum dipersembahkan sama dengan memakan dosa,” ungkapnya.
Sisa persembahan yang lebih dikenal dengan istilah lungsuran sesungguhnya merupakan salah satu cara untuk mendapatkan amrta atau mendapatkan keabadian untuk dapat mencapai Sang Pencipta. Ini menandakan betapa mulia dan besarnya manfaat yang diperoleh ketika dapat menikmati lungsuran atau makanan hasil persembahan.
Segala yang dipersembahkan dapat dinikmati sebagai amrta demikian juga dengan nasi atau tumpeng yang dipersembahkan dalam bentuk banten. Agar dapat menikmati segala anugrah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam lungsuran tersebut maka perlu dipertimbangkan juga dalam pembuatan bahan dasar dari upakara.
“Idealnya menggunakan bahan-bahan yang bisa untuk dinikmati lungsurannya, seperti penggunaan tumpeng dengan nasi yang memang layak untuk dimakan agar lungsuran tumpeng tidak terbuang-buang,” ungkapnya.
Dalam Bhagawadgita XVII. 10 disebutkan: Yata yamam gata-rasam puti paryuṣitam ca yat ucchiṣṭam api camedhyam bhojanam tamasa priyam
Terjemahan: Makanan yang dimasak terlalu lama, hambar rasa, basi, busuk, sisa dimakan orang lain, dan makanan yang (tidak bersih dan) tidak suci, adalah jenis makanan yang disukai oleh mereka yang berada di dalam sifat kegelapan
Bila ditelisik, maka bahan-bahan yang segar dan menyehatkan, setiap banten yang dibuat haruslah banten yang segar, tidak basi, busuk, dan tidak kering atau layu, sehingga prasadam atau lungsurannya dapat memberikan dampak kesehatan.
Demikian juga halnya dengan tumpeng yang digunakan dalam pembuatan upakara. Apabila merujuk pada pustaka suci Bhagavadgita tersebut, hendaknya diupayakan menggunakan tumpeng dengan berbahan nasi yang masih bagus dan layak untuk dinikmati, untuk mewujudkan persembahan yang sattvika dan prasadham atau lungsurannya juga menjadi makanan yang sattvika yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh.
“Makanan sattvika sangat penting bagi kehidupan spiritual dan kesehatan. Menyantap makanan sattvika dapat memurnikan pikiran dan menyembuhkan badan dengan menyeimbangkan unsur-unsur di dalam tubuh, melepaskan racun dalam tubuh, dan memberi nutrisi yang diperlukan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh” pungkasnya. Editor : I Putu Suyatra