KETUA PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan, Dawang-dawang umumnya mengiringi prosesi medeeng saat Ngaben.
Medeeng dilakukan sehari sebelum upacara Ngaben dengan iring-iringan berupa bangkit atau wadah berukuran kecil yang biasanya diarak oleh anak-anak dan juga barisan muda-mudi berpasangan mengenakan pakaian adat khas Buleleng. Pada barisan paling depan akan terlihat sepasang Dawang-dawang lanang (laki) dan wadon (perempuan) yang diusung oleh seseorang untuk mengiringi medeeng.
Para deeng umumnya diikuti oleh kawula muda, terutama yang belum menikah. Mereka berpakaian upacara lengkap dengan hiasan yang serba warna keemasan. Bahkan ada yang menggunakan hiasan emas murni, terutama para deeng dari keluarga kaya.
Mereka adalah simbolisasi para apsara (bidadara) dan apsari (bidadari) yang gagah dan cantik. Upacara yang dilakukan sore hari ini, sebagai simbol apsara dan apsari yang mengantar keberangkatan roh menuju nirwana. Dikatakan Suardika, Dawang-dawang memiliki keunikan tersendiri sehingga dapat menarik perhatian orang yang melihatnya.
“Dawang-dawang tersebut akan diusung dan berjalan sambil digoyang- goyangkan oleh pengusungnya, sehingga terlihat seperti menari-nari. Tidak semua upacara Ngaben di Buleleng disertai Dawang-dawang,” ujarnya, Rabu (5/1) siang.
Dawang-dawang berwujud laki-laki dan perempuan sebut Suardika memang khusus digunakan hanya pada upacara Ngaben, utamanya saat upacara medeeng. Proses pembuatannya pun tergolong simpel dengan rangka yang terbuat dari anyaman bambu menyerupai keranjang. Biasanya, para seniman memasang lengan Dawang-dawang yang terbuat dari ilalang pada rongga yang terletak di samping dada.
Langkah selanjutnya memasang kepala dan telapak tangan yang dibuat dari styrofoam. Untuk Dawang-dawang perempuan dipasang tempurung kelapa untuk membuat dada. Agar terbentuk, biasanya dibungkus koran dengan menggunakan lem agar rongga kerangka tidak terlihat ketika diberi pakaian.
Dawang-dawang kemudian diberi warna pada bagian wajah hingga tangan. Lalu diberi pakaian menggunakan kain. Proses akhir pembuatannya yaitu memberi sentuhan terakhir seperti memasang rambut dan perhiasan berupa kalung, anting-anting, bunga dan bros.
“Pada wajah Dawang-dawang dibuat dengan rupa yang cantik dan tampan. Rupa Dawang-dawang yang cantik dan tampan tersebut membuat kesan Dawang-dawang tersebut tidak menyeramkan seperti halnya ogoh-ogoh,” ungkapnya.
Agar lebih feminim, Dawang-dawang wadon (perempuan) biasanya mengenakan pakaian tradisional, dilengkapi juga dengan memakai sanggul karena menyesuaikan dengan wujud dari perempuan Bali seutuhnya.
Sedangkan Dawang-dawang laki-laki dibuat dengan dandanan seperti laki-laki Bali. Dibuat dengan postur tubuh yang gagah dan lebih tegap dibanding yang perempuan, menyesuaikan dengan bentuk tubuh seorang laki-laki pada umumnya.
“Hiasan kepala Dawang-dawang yang laki-laki di setiap daerah di Buleleng hampir memiliki kesamaan gaya. Biasanya ditambahkan udeng, berkumis,” ungkapnya.
Selain makna purusa dan pradana, makna lain dari Dawang-dawang yaitu rwa bhineda yaitu dua hal yang berbeda atau bertentangan yang selalu berdampingan didunia ini. “Jika dikaitkan dengan kehidupan manusia rwa bhineda tersebut selalu melekat pada diri manusia itu sendiri dan selalu berdampingan. Siang malam, susah-senang, Lahir-Mati, semua berdampingan,” terangnya. Editor : I Putu Suyatra