Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pandita dalam Teks Agastya Parwa Memiliki Empat Ciri

I Dewa Gede Rastana • Senin, 10 Januari 2022 | 16:24 WIB
Made Gami Sandi Untara. (istimewa)
Made Gami Sandi Untara. (istimewa)
Dosen Filsafat, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Gami Sandi Untara mengatakan, seorang pandita memiliki empat ciri. Pertama sebagai Sang Satya Wadi berarti seorang Paṇḍita selalu berbicara mengenai kebenaran. Paṇḍita seyogyanya selalu mengatakan kebenaran dengan cara yang benar.

“Satya merupakan kebenaran Veda sabda Hyang Widhi. Inilah swadharma orang yang disebut Paṇḍita maha berat,” jelasnya.

Ciri yang kedua yaitu Sang Apta, artinya seorang Paṇḍita yang dapat dipercaya. Paṇḍita selalu berkata benar dan jujur sehingga dapat dipercaya oleh umat Hindu. Seorang seyogyanya memikirkan secara matang sebelum berbicara dan berbuat. Sehingga, kemungkinan berkata dan berbuat salah menjadi kecil, agar seorang Paṇḍita tidak sampai terkena kata-kata kasar orang lain

Selanjutnya Sang Patirthan yang berarti Paṇḍita sebagai tempat untuk memohon penyucian diri bagi umat Hindu. Paṇḍita juga disebut orang suci, disamping beliau berwenang untuk membuat tirta atau air suci. Paṇḍita memiliki swadharma untuk menyucikan umat Hindu.

Ciri keempat adalah Sang Panadahan Upadesa. Dimana, Paṇḍita memiliki swadharma untuk memberikan pendidikan moral kesusilaan pada masyarakat agar hidup harmonis dengan moral yang luhur.

“Paṇḍita disebut pula Adi Guru Loka yang berarti sebagai guru utama dalam masyarakat dan juga lingkungannya. Oleh karena Paṇḍita disebut sebagai Adi Guru Loka,” sebutnya.

Di dalam Agastya Parwa Paṇḍita sangat sempurna karena Paṇḍita juga merupakan seorang guru, seorang Paṇḍita harus mampu menghilangkan dosa, menghilangkan hawa nafsunya, dan tingkah lakunya sangat suci.

Menjadi seorang Paṇḍita juga berat, karena harus mampu menghilangkan noda dari seseorang yang akan di-dikṣa olehnya. Hal terpenting dari seorang paṇḍita adalah tidak terikat dalam hal keduniawian.

Seorang Paṇḍita juga harus mampu membimbing sisya-nya agar mencapai kĕlĕpasan. Di dalam teks Agastya Parwa, agar seseorang mendapatkan kamokṣan harus bersifat dewata dengan melakukan tiga brata antara lain, akrodha, yang berarti tidak marah, alobha, yang berarti tidak rakus atau serakah, dan sokavarjita, yang berarti tidak bersedih hati.

Dengan melaksanakan tiga brata ini maka seseorang akan bersifat dewata sehingga dapat mencapai mokṣa. “Menjadi seorang Paṇḍita memang sangat berat. Paṇḍita dituntut benar-benar mengikuti Swadharmanya sesuai dengan kitab-kitab suci Hindu, sehingga dalam menjadi Paṇḍita memang benar-benar tauladan bagi umat Hindu.” pungkasnya. (habis) Editor : I Dewa Gede Rastana
#pandita #sulinggih #swadharma #empat sista