Titra Guna Wijaya mengatakan, banten pokok yang digunakan dalam upacara otonan pertama bagi si Bayi adalah dapetan, prayascita, banten paruruban (untuk upacara potong rambut), jejanganan, banten tuun tanah dan banten kumara.
Setelah upacara otonan ada juga upacara yang masih terkait yang disebut Pamayuh oton atau penebusan oton. “Upacara ini merupakan upacara penebusan hari kelahiran, karena seperti disebutkan di awal bahwa hari kelahiran juga berpengaruh terhadap kekotoran manusia. Bedanya antara upacara otonan dengan pemayuh oton terletak pada banten dan prosesinya,” ungkapnya.
Sedangkan pamayuh oton baik prosesi ataupun sarana upacara berdasarkan hari lahir dari orang bersangkutan. Orang yang lahir hari senin pada wuku Sinta akan beda banten serta tata cara upacaranya dengan orang yang lahir di hari selasa atau hari rabu meski di wuku yang sama.
Dari segi Banten upacara pamayuh oton juga berbeda yakni menggunakan daksina gede dan sasayut sebagai banten utama. Daksina gede dan sasayut yang digunakan pun berbeda tergantung hari kelahiran seseorang.
Misalnya orang yang lahir hari minggu akan menggunakan daksina gde sarwa beras lima, uang kepeng 500, benang limang tukel, telor lima butir, papaya 5 buah nasi putih ayam putih yang dipanggang, bunga putih lima tangkai.
“Penebusan ini dipersembahkan kepada I Butha Angga pati. Orang yang lahir hari senin menggunakan daksina gede sarwa pat dilengkapi dengan papaya 4 buah nasi hitam, dagingnya sate ayam berbulu hitam dipanggang,” paparnya.
Penebusan ini dipersembahkan kepada Sang Butha Soma. Titra menyebut, menurut kepercayaan orang Bali hari kelahiran sangat berpengaruh terhadap baik buruknya prilaku serta jalan hidup seseorang. Pemayuh oton biasa dilaksanakan apabila seseorang mendapatkan kesusahan dalam hidupnya misalnya seperti sakit, kecelakaan dan sebagainya.
“Pemayuh oton dapat dikatakan sebagai upacara pembayaran atau penebusan, karena manusia ketika lahir masih membawa hutang yang harus dibayar, jika tidak hal itulah yang akan selalu mengganggu kehidupan manusia,” pungkasnya. (habis) Editor : I Dewa Gede Rastana