Di desa ini ada pisang khusus yang digunakan. Namanya Biu Bunga. Pisang ini merupakan simbol bunga atau simbol ketentraman. Menyertakan Pisang ini dalam sarana upakara diharapkan dapat memberikan ketentraman serta kedamaian layaknya Bung yang memberikan pesona keindahan dan mendamaikan hati.
Pemangku Desa Tigawasa, Jro Mangku Ketut Sudaya menuturkan setiap upacara apa pun di desa Tigawasa pasti menggunakan Pisang ini dalam sarana banten. Namun ketika upacara Galungan dan Kuningan barulah masyarakat boleh menggunakan pisang jenis lainnya.
"Kalau di sini saat Galungan dan Kuningan tidak ada yang ke sanggah. Karena kami tidak punya sanggah. Cukup dari dalam rumah saja sembahyangnya. Biu ini selalu ada dalam setiap upacara kami di sini. Wajib ada," tegasnya.
Seperti sudah diatur, ajaibnya Pisang ini selalu ada dan tersedia saat dibutuhkan masyarakat untuk upacara. Ketika ada yang melaksanakan pernikahan, Tiga bulanan, atau pun piodalan di pura-pura di desa Tigawasa, Pisang ini tidak pernah tidak ada.
"Pasti ada. Tidk mungkin tidak ada. Karena kami menanam Pisang ini. Tidak mungkin juga tidak berbuah saat dibutuhkan. Walau Masih muda ya tetap dipakai. Yang penting ada biu ini. Mungkin sudah diatur Dewa," ungkapnya.
Bentuk Biu Bunga ini Tak jauh beda dengan Pisang hijau. Atau Pisang raja. Tapi rasanya berbeda dengan yang lainnya. Biu Bunga memiliki rasa yang lebih asam, warna daging yang cenderung putih dn tekstur yang lembut saat sudah matang.
Kulit luar dari pisang ini berwarn hijau terang saat masih muda. Namun saat sudah matang maka warna hijau pisang ini sedikit memudar. Akan tetapi ia tidak menguning seperti pisang lainnya ketika matang.