Manfaat tumbuhan yang digunakan sebagai bangunan yang terdapat pada lontar Aji Janantaka terdapat pada kutipan 7b, bahwa: “Semuanya, dengarkanlah apa yang saya sampaikan kepada kalian, saya akan memberikan wara nugraha kepada kalian, kepada semua saudara kalian, semua yang terkena wabah penyakit cukil daki, jangan kalian menjadi parahyangan dewa, karena sudah terkena wabah yang tidak dapat disembuhkan tetapi kalian bisa dijadikan rumah manusia dari sekarang sampai selamanya, jika manusia tidak menuruti maka tidak akan menemukan keselamatan, kekurangan makanan dan minuman, yang memiliki pura dan memiliki perumahan. Kehancuran dunia, karena kahyangan ditempati oleh bhuta kala, jin”
Menurut Dosen Filsafat STAHN Mpu Kuturan Singaraja Putu Ariyasa Darmawan, jika merujuk Lontar Aji Janantaka, meski jenis tumbuhan yang telah terkena wabah penyakit cukil daki tidak diperkenankan digunakan menjadi bahan bangunan suci, namun masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan tempat tinggal atau rumah.
Jenis pohon yang dapat dijadikan bahan bangunan rumah meliputi pohon nangka, pohon teges jati, pohon benda, tehep, pohon sentul/ pentul, pohon ungu atau disebut tangi, pohon kladyan, pohon kepundung, pohon buni mawoh, pohon bengkel dan pohon pulet. Kemudian yang tidak diperkenankan digunakan sebagai bangunan, saka atau tiang adalah yang digolongkan masih kotor.
“Misalnya pohon bengkulitan, pohon brokan, pohon hembud hati, soca manengen sunduk, dan soca nyuun lambang,” paparnya.
Dalam Lontar Aji Janantaka, di Bali bahan membuat arca hanya diperkenankan memakai kayu cendana, majegau, dan cempaka (kayu ini tergolong kayu miik) yakni jenis pepohonan yang berbunga harum. Tumbuhan yang tergolong harum digolongkan berdasarkan anugrah wangsa yang diberikan oleh Ida Bhatara Sakti Wawu Rawuh.
Pemberian anugerah tersebut memperhatikan tingkat ketahanan tumbuhan jika dilihat secara ilmiah, serta dari segi fungsi dan manfaat tumbuhan sebagai bahan bangunan.
“Misalnya bahwa pohon cendana sebagai perwujudan Sang Hyang Parama Siwa, Majegau sebagai perwujudan Sang Hyang Sadha Siwa, pohon cempaka putih sebagai perwujudan Sang Hyang Siwa Jati (Sang Hyang Siwa Tiga), pohon sari sebagai perwujudan Siwa Guru, dan pohon piling sebagai perwujudan Sang Hyang Siwa Tunggal,” pungkasnya. Editor : I Putu Suyatra