Dosen Teologi Putu Maria Ratih Anggraini menyebutkan, kegiatan keagamaan sangat dibutuhkan adanya suara dan bunyi-bunyian disesuaikan dengan tingkat dan jenis upacara yang dilakukan. Dengan harapan yang dilandasi suatu keyakinan bahwa suara dan bunyi-bunyian tersebut mampu menggantarkan dan menyampaikan maksud, tujuan dan isi dari upacara dan upakara yang dimaksud.
Suara atau bunyi berperan penting dalam upacara keagamaan sehingga dikenal adanya istilah panca nada yaitu suara kulkul, sunari dan pindekan, kidung atau nyayian suci, gambelan, genta sulinggih atau pamangku, mantra atau doa.
“Pada puncak pelaksanaan yajna upacara piodalan semua suara tersebut disuarakan untuk menyambut Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya dalam menyaksikan upacara yang dilaksanakan,” jelasnya, Minggu (13/2) siang.
Ratih menambahkan ketika melaksanakan yajna yang lebih kecil tingkatannya cukup memperunakan suara genta sang pamangku dan mantra dari sang pemangku untuk memuput pelaksanaan upacara yajna. Suara genta sudah mewakili berbagai suara sehingga dapat dikatakan jura suara genta merupakan nada brahman.
Suara genda dibagi menjadi tiga jenis. Yakni Suara genta tabuh siki (satu), Suara Genta tabuh kalih (dua) dan Suara genta tabuh tiga (tiga). Serta terdapat lagi suara genta Bramara ngisep sari yakni suara genta tabuh telu dengan irama nada naik turun.
Secara religius, Genta dipandang sebagai senjata Dewa Iswara yang berkedudukan di arah timur, dengan aksara Sang (Sa), aksara suci pertama Dasaksara. Sebagai senjata Dewa Iswara, maka genta tersebut sangat disakralkan, dan karena itu tidak boleh dipergunakan oleh sembarang orang.
“Genta hanya boleh dipergunakan oleh mereka yang sudah mawinten, sudah disucikan secara niskala oleh pendeta,” ungkapnya.
Dalam Lontar Kusumadewa disebutkan saat melaksanakan tugas, pemangku patut menggunakan Genta, karena denting suara genta sebagai perwujudan bayu. Sedangkan ucapan mantram sebagai perwujudan sabda, dan konsentrasi pikiran sebagai perwujudan idep.
Genta menjadi penghantar persembahan kehadapan Hyang dan menjadi pertanda bahwa ditempat itu sedang dilakukan upacara, bahkan dapat mengundang para Dewa (Kukul Dewa). Tangan kiri yang menabuhkan genta memiliki makna agar genta selalu berada dekat dengan jantung manusia.
“Karena posisi jantung normal manusia berada dalam rongga dada sebelah kiri setinggi dada dan sebesar kepalan tangan kita,” imbuhnya.
Dalam lontar Usada Punggung Tiwas dijelaskan: “…. Sangyang Dasaksara, kadi hiki genahnya ring jro, kawruhakena denira, sang mahulah Ralyan, Sang, ring pupusuh, Iswara Dewanyu, putih rupanya ……”
Jika dimaknai kutipan lontar tersebut bahwa aksara suci juga berada dalam tubuh manusia tepatnya dalam organ tubuh manusia yang erat kaitannya dengan persebaran arah mata angin. “Sa” merupakan aksara suci arah timur dengan dewatanya adalah Dewa Iswara, senjatanya adalah Genta, warnanya adalah Putih, dan dalam diri manusia berstana di pupusuh atau Jantung.
“Secara simbolis, arah timur merupakan arah sumber kehidupan dengan terbitnya sang hyang surya, menjadi sumber kehidupan,” paparnya.
Suara genta juga disamakan dengan tujuh cakra yang terdapat dalam tubuh manusia yang dikenal dengan sapta cakra. Perputaran cakra-cakra tersebut menghasilkan gelombang-gelombang energi dan suara. Proses pengendalian cakra-cakra ini diajarkan dalam yoga.
Dikatakan Ratih Anggraini etiap titik cakra di dalam tubuh cenderung untuk merespon secara khusus bunyi, nada, irama tertentu. Cakra dasar merespon secara khusus terhadap nada-nada bass. Terserapnya musik atau bunyi ke dalam sukma yang mempengaruhi perputaran cakra–cakra menuju puncaknya.
Menariknya, dalam Lontar Prakempa menyebutkan bahwa bunyi, suara mempunyai kaitan erat dengan panca maha bhuta yang masing-masing memiliki warna dan suara, kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi dan akhirnya membentuk sebuah lingkaran yang disebut pengider bhuana.
“Hal inilah yang meyakini, ketika suara genta dibunyikan, diiringi dengan mantram, tentu akan memberikan vibari kesucian bagi kosmos atau bhuana Agung. Sehingga setiap ritual di Bali tidak lepas dari suara genta,” paparnya.
Bahkan, dalam Lontar Aji Gurnita khususnya terhadap pengaruh bunyi terhadap dewa-dewa tertentu dihubungkan dengan banyaknya jenis-jenis genta yang mengeluarkan suara berbeda dengan fungsi yang berbeda-beda pula.
Dikatakan Ratih, bentuk genta adalah berbentuk lonceng kecil yang memiliki tangkai pegangan untuk memudahkan saat membunyikannya. Lonceng genta berbentuk mangkok dan memiliki alat kecil di tengah-tengah yang disebut palit yang dapat di gerak-gerakkan sehingga menyentuh piringan logam agar menimbulkan suara nyaring.
Sedangkan pada ujung tangkai pegangan paling atas yang disebut ‘ulon genta’ berbentuk gada, seperti pada kedua ujung tangkai bajra atau Vajra, sehingga genta ini disebut ‘Genta Padma’.
“Genta Padma yang biasa dipakai oleh Ida Pandita atau Ida Sang Sulinggih dalam melaksanakan ngelokapalasraya adalah untuk membersihkan alam Bhur, Bwah, Swah atau alam bawah, alam tengah, dan alam atas (sorga) dengan segala puja mantra yang diucapkan oleh beliau. Jadi genta itu adalah simbol Ong Kara, yang berasal dari aksara Ang, Ung, Mang,” pungkasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana