Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lis Simbol Senjata Panca Dewata

I Dewa Gede Rastana • Rabu, 16 Februari 2022 | 14:01 WIB
Sarati Banten Jro Ketut Utara. (I Putu Mardika/Bali Express)
Sarati Banten Jro Ketut Utara. (I Putu Mardika/Bali Express)
SARANA upakara yang terdapat dalam banten prayascita untuk ritual nyambutin sebut Jro Utara memiliki berbagai makna. Seperti alas dasar dari banten prayascita menggunakan sesayut dari janur. Sesayut dimaknai sebagai keselamatan atau kebahagiaan. Alas sayut berbentuk bulat ini melambangkan bahwa perjuangan untuk mencapai hidup yang sejahtera dan selamat harus dilaksanakan secara bertahap.

 

Bentuk bundar sesayut, nasi bundar dan peras bundar sebagai lambang windu yaitu sebagai perwujudan simbol kemahakuasaan Hyang Widhi yang tidak berawal dan berakhir. Sarana selanjutnya sebut Jro Utara adalah banten penyeneng yang berasal dari bentuk sampian yang di atasnya diisi tiga konjong dirangkai menjadi tiga petak yang dirangkai jadi satu, masing-masing petak diisi beras dan benang, tepung tawar dari daun dadap diisi kunir, tepung beras. “Tepung tawar sebagai simbol keseimbangan hidup dan kekuatan penyeneng ini melambangkan konsep hidup yang seimbang, dinamis, produktif dan kuat,” ungkap pria yang sudah puluhan tahun menggeluti bebantenan ini.

 

Kemudian banten peras sebagai lambang Tri Guna Sakti, yakni Sattwam, Rajas dan Tamas. Banten tulung adalah berbentuk seperti mangkok kecil tiga buah berisi nasi lauk pauk jajan buah-buahan. Banten sesayut sebagai simbol perjuangan untuk mencapai rahayu, selamat dan sukses. “Tulung maksudnya tolong menolong. Jadi banten tulung dimaknai sebagai lambang wujud kerja sama saling tolong menolong dengan sesama untuk mencapai hidup yang sejahtera,” ungkapnya lagi.

 

Banten pengeresikan dibuat beralaskan ceper diisi celemek tujuh buah, masing-masing celemek berisi ambuh dari daun kembang sepatu yang diiris, tepung tawar, kekosok putih dari tepung beras, kekosok kuning dari tepung beras berwarna kuning minyak wangi, sisig dibuat jajan yang dibakar sampai gosong, dan beras. Banten canang pesucian sebagai simbol pembersihan dan penyucian dari pengaruh negatif.

 

Selanjutnya sarana padma adalah sejenis jejahitan yang dibuat dari janur kelapa gading berbentuk bundar diisi reringgitan. Padma ini sebagai simbol senjata Dewa Siwa yang dapat menyucikan cuntaka. Menariknya, dalam banten prayascita terdapat sarana lis senjata yang dibuat dari daun janur kelapa gading ini umumnya dibuat dalam bentuk sampian lis dengan lima macam senjata saja.

 

Misalnya reringgitan dari yang paling bawah melukiskan senjata Naga Pasa senjatanya Dewa Maha Dewa, terus di atasnya gada senjatanya Dewa Brahma, berikutnya padma senjata Dewa Siwa, di atasnya cakra senjata Dewa Wisnu. Di atas cakra adalah bajra senjata Dewa Iswara.

 

Di atas senjata bajra ada mata dan terus paling di atas menggambarkan rambut. Ini menggambarkan bahwa seluruh senjata kekuatan Dewa itu adalah satu dari Hyang Widhi Wasa. “Sejata para Dewa itu lambang kesucian Tuhan yang akan melenyapkan segala kekotoran alam pikiran. Dengan sampian lis senjata ini lah kita,” katanya.

 

Bungkak kelapa gading yang dikasturi berbentuk segitiga yang digunakan airnya diperciki dengan sarana lis senjata panca dewata untuk menyucikan bangunan suci di  area merajan, sarana upacara, sumur, dapur, rumah dan dicipratkan di atas kepala keluarga yang melaksanakan upacara nyambutin. “Tirta prayascita diperoleh dengan memantrai air oleh pandita atau rohaniwan sebagai pemimpin upacara penggunaanya sama dengan air bungkak kelapa gading namun dicipratkan dengan jejahitan padma, sebagai simbol penyucian bhuana agung dan bhuana alit,” pungkas sarati banten asal Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. (habis) Editor : I Dewa Gede Rastana
#senjata panca dewata #upacara nyambutin #ista dewata #lis #pembersihan