Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Gunawijaya mengatakan, Ngadegang Dewa Nini sesungguhnya merupakan bagian dari rangkaian upacara yang berbasis subak. Upacara-upacara tersebut menjadi satu kesatuan rangkaian seiring dengan perjalanan tumbuh kembang tanaman padi.
“Dewa Nini pertama kali dibuat simbolisasinya pada saat upacara Ngadegang Dewa Nini. Momentum pelaksanaannya dilakukan dengan melihat apabila padi sudah mulai menguning dan bulir-bulir buah padinya telah panjang dan lebat,” ujarnya.
Dewa Nini dibuat dari batang padi yang telah berisi bulir-bulir padi yang sehat, tidak rusak atau cacat serta dalam istilah Bali disebut jelih dan lambih. Artinya berisi bulir padi yang padat dan panjang. Batang-batang padi yang dipilih lalu diikat dengan tali bambu, dihiasi dengan bunga dan janur, layaknya seperti manusia laki dan perempuan.
Selanjutnya Dewa Nini tersebut dipotong pangkalnya dengan menggunakan anggapan (ani-ani) dan padi yang diikat dijadikan Dewa Nini. Sarana ini disimbolkan dengan aspek kelaki-lakian (lanang) dan aspek kewanitaan (wadon).
Simbol lanang disebut juga Kaki Manuh dan simbol wadon-nya disebut juga Nini Manuh.
Jumlah batang padi berbeda untuk lanang dan wadon. Untuk ikatan padi yang diperuntukkan sebagai simbol lanang, jumlahnya 108 batang ikatan, sedangkan ikatan padi yang diperuntukkan sebagai simbol wadon jumlahnya sebanyak 54 batang ikatan. Dewa Nini tersebut lalu dijejerkan secara tegak (ngadegang) pada palinggih pangulun carik. Di sanalah para krama subak melakukan persembahyangan.
“Ritual ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan tanaman padi dalam menghasilkan bulir-bulir biji padi yang siap untuk dipanen,” paparnya.
Selanjutnya diadakanlah upacara mantenin di lumbung, di mana Dewa Nini kemudian di sthanakan di lumbung atau jineng. Menurut kepercayaan petani, padi itu baru boleh diturunkan dari lumbung untuk ditumbuk atau pun dibawa ke tempat penggilingan padi setelah dilaksanakan ritual mantenin. “Harapannya agar Dewi Sri berkenan untuk senantiasa bersthana dalam setiap tanaman padi, memberi kemakmuran, serta terhindar dari hama,” imbuhnya.
Dikatakan Titra, padi merupakan benih sumber kehidupan yang berasal dari pertemuan purusa dan pradana. Sumber kehidupan yang ajeg itu disimbolkan dengan urip tertinggi yaitu angka 9. Angka 9 diperoleh dari jumlah Dewa Nini lanang dan wadon yang berjumlah 108 dan 54 tersebut.
Oleh sebab itu, maka makna dari angka 108, yaitu angka 1 bila ditambah dengan angka 8 berarti hasilnya angka 9 yang melambangkan pengider bhuwana (Dewata Nawa Sanga), sedangkan angka 0 disimbolkan dengan windu atau dunia. Dengan kata lain 108 dapat diartikan sebagai persembahan kepada Dewata Nawa Sanga yang mengelilingi dunia.
Begitupula angka 54 apabila digabungkan antara angka 5 ditambah dengan 4 maka akan berjumlah 9. “Simbolisasi Dewa Nini bertujuan untuk mengungkapkan rasa terima kasih atas tercapainya keseimbangan kehidupan alam yang terbentuk dari permulaan, yakni unsur purusa dan pradana,” katanya. Editor : I Putu Suyatra