Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Budaya Agraris, Berkaitan dengan Seluruh Jenis Upacara

I Putu Suyatra • Jumat, 18 Februari 2022 | 04:16 WIB
UPACARA: Salah satu  upacara di sawah adalah Ngadegang Dewa Nini di sawah. (ISTIMEWA)
UPACARA: Salah satu upacara di sawah adalah Ngadegang Dewa Nini di sawah. (ISTIMEWA)

DALAM budaya agraris yang dipersonifikasikan dengan Dewi Sri ini erat kaitannya dengan seluruh jenis upacara yadnya yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu Bali. Hal ini dibuktikan dengan adanya penggunaan bija, yaitu beras yang ditempelkan di kening, pangkal lengan, dan ditelan pada saat umat Hindu selesai melaksanakan persembahyangan.


Titra Guna Wijaya menambahkan, bija merupakan lambang Dewi Sri dan digunakan sebagai simbol anugerah kemakmuran yang diperoleh sehabis melaksanakan persembahyangan. Hal ini dimaklumi mengingat bahwa dalam budaya agrikultur, keberlimpahan beras merupakan sinyal utama bagi kemakmuran.


Penempatan bija di kening, pangkal tenggorokan dan lengan (atas dada), dan yang ditelan tiga biji tanpa dikunyah tersebut juga memuat filosofi yang sangat dalam. Penempatan di kening memiliki makna penyucian pikiran (manacika).


“Kalau ditelan tiga biji tanpa dikunyah memiliki makna penyucian ucapan di lidah (wacika), serta di pangkal lengan dan tenggorokan memiliki makna pengendalian perbuatan (kayika),” kata Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Gunawijaya.


Dengan demikian diharapkan manusia senantiasa menanamkan sifat-sifat kedewataan agar tercipta kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Filosofi lainnya terkait dengan penempatan bija tersebut adalah dari segi letaknya yang merepresentasikan simbol tapak dara (+), baik di kening, pangkal tenggorokan dan lengan, serta yang ditelan masuk ke perut sebagai pusat bhuwana alit atau tubuh manusia.


“Titik-titik centrum tersebut melambangkan pertemuan purusa dan pradana (garis vertikal), serta keseimbangan hidup dengan sesama makhluk (garis horizontal),” sebutnya.


Ia menambahkan sakralisasi budaya agrikultur di Bali memiliki dampak yang sangat kuat bagi masyarakat, terutama di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Masyarakat di satu sisi merasa wajib melestarikan tradisi warisan leluhur. 


“Jika budaya pertanian ditinggalkan, maka otomatis tidak ada upacara yang dilangsungkan. Jika upacara tidak dilangsungkan, maka dianggap akan tulah atau ingkar terhadap ajaran leluhur. Oleh sebab itu jalan satu-satunya adalah budaya pertanian harus tetap dijamin kebertahanannya,” tutupnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #DEWA NINI #hindu #AGRARIS