Upacara Patiwangi umumnya dilaksanakan di Pura Bale Agung. Petimbangannya Pura Baleagung sebagai tempat pemujaan Bhatara Brahma yang dipercayai dapat melebur Wangsa dan menyetarakan dengan pihak laki-laki keturunan Jaba Wangsa.
Dikatakan Yoga, Upacara Patiwangi yang dilaksanakan oleh sang Yajamana, diikuti oleh keluarga dan kerabat dekat yang ikut membantu pelaksanaan Upacara Patiwangi, upacara ini biasanya dipimpin oleh pemangku sebagai pengamong Pura Bale Agung.
Pelaksanaan Upacara Patiwangi dilaksanakan mulai dari pemangku matur piuning, nunas penglukatan, me-Patiwangi, dan terakhir proses muspa yang dipimpin oleh pengamong Pure Puseh Bale Agung, selanjutnya dilakukan dengan nunas tirta dan mapamit
Sarana yang dipakai untuk matur piuning adalah banten Pejati. Tujuan mempersembahkan banten tersebut kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manivestasinya sebagai Dewa Brahma untuk memohon agar dalam Upacara Patiwangi dapat berjalan lancar.
Upacara yang dipimpin oleh Pemangku Pura Desa/Baleagung sebagai pengemong di Pura tersebut. Matur piuning ini merupakan rangkaian dari upacara patiwangi di Pura Puseh Bale Agung dimaksudkan sebagai sebuah bentuk pemberitahuan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manivestasinya sebagai Dewa Brahma agar diberikan tuntunan dalam melaksanakan Upacara Patiwangi.
“Selanjutnya dilaksanakan Ngelungsur panglukatan dimaksudkan bahwa dalam upacara sudah menginjak ke prosesi inti dari pelaksanaan Upacara Patiwangi. Sarana ngelungsur pangelukatan dengan menggunakan prayascita yang berisi tirtha penglukatan dan tirta pabersihan,” paparnya.
Upacara ini bertujuan untuk membersihkan lahir dan bhatin, lahir dibersihkan dengan air dan bhatin dibersihkan dengan wedha mantra. Sehingga pada saat melaksanakan pemujaan diharapkan upacara memiliki kekuatan spiritual.
Saat ritual berlangsung, penganten duduk dalam posisi Padmasana dan bajrasana (bersila bagi yang laki dan bersimpuh bagi yang perempuan). Kemuadian pemangku memercikan titra/air suci pengelukatan pebersihan, jero mangku kembali Matur Piuning kepada Dewa Brahma untuk pelaksanaan patiwangi, kemudian barulah pelaksanaan Patiwangi dilanjutkan.
Upakara yang dipakai dalam proses Upacara Patiwangi di Areal Pura Bale Agung yang terdiri dari 4 buah Pejati, banten suci asoroh, saluran pebuut, dan saperadeg. Memakai kwangen dengan uang kepeng yang berjumlah 11, pada saat sembahyang, juga di lengkapi dengan tetabuhan, dupa dan cunang sari, itulah sarana yang dipakai saat Upacara Patiwangi berlangsung.
Proses Patiwangi selanjutnya adalah penganten berdiri dan diarahkan oleh pemangku agar mengelilingi Bale Agung sebanyak tiga kali putaran searah dengan jarum jam. Penganten perempuan diberikan rantasan putih kuning untuk dijinjing di atas kepala.
Sedangkan penganten laki-laki diberikan sebuah salaran (semacam rangkaian buah-buahan untuk di pikul), Kemudian penganten berjalan mengelilingi baleagung sebanyak tiga kali. Mempelai wanita dari keturunan Tri Wangsa dengan nyuun runtasan putih kuning, diikuti oleh suaminya yang membawa salaran. Keluarga lainnya ada juga ikut berjalan keliling dibelakang penganten lakilaki.
Setelah berkeliling sebanyak tiga kali putaran maka semua sarana banten yang di pergunakan di letakan di Bale Agung, mulai saat itulah secara simbolis wangsa dari mempelai wanita syah setara dengan mempelai lakilaki dari keturunan Jaba Wangsa.
“Rantasan putih-kuning yang dibawa mempelai perempuan dari keturunan Tri Wangsa diberikan kepada Pemangku yang sudah memimpin prosesi Upacara Patiwangi, pemberian ini sebagai simbolis ucapan terimakasih kehadapan pemangku yang berjasa memimpin Upacara Patiwangi, pungkasnya. (habis) Editor : I Dewa Gede Rastana