Tak hanya memiliki spirit untuk pembersihan secara filosofis, Nyakan diwang juga memiliki spirit pelestarian. Hal ini terlihat saat masyarakat Desa Kayu Putih memasak dengan kayu bakar. Uniknya, penggunaan kompor tidak diperkenankan saat Nyakan Diwang berlangsung. Hal ini selalu ditegaskan saat tawur kasanga tiba.
Salah seorang warga Dusun Bolangan, Desa Kayuputih, Putu Sosiawan mengtakan imbauan tersebut disambut baik oleh warga desa. Hal ini terlihat dari pantauan di lapangan. Sepanjang jalanan desa, seluruhnya memasak menggunakan tungku. Hanya saja yang sedikit berubah adalah bentuk tungkunya.
“Dahulu, era tahun 2000-an, masih membuat secara langsung di tempat dengan batu bata, genteng, atau batako. Tetapi kini sudah ada tungku berbahan batu baru yang bisa langsung diletakkan dan dipakai dengan tetap menggunakan kayu bakar,” jelasnya, Jumat (4/3).
Meski dari desa adat tidak ada sanki secara tertulis jika tidak menjalankan tradisi ini. Namun, warga tetap melestarikan dengan penuh kesadaran. Kuncinya adalah warisan ini adalah sebuah keunikan yang tidak semua desa memiliki.
Selain itu, melalui tradisi ini juga terimplementasi falsafah Tri Hita Karana dalam hal pawongan, yaitu menjalin hubungan baik antarsesama. Hal ini terlihat saat momentum saling mencicipi makanan. Menurutnya, ini mencerminkan nilai-nilai kesadaran untuk saling memaafkan sesama warga desa.
Dari sisi parhyangan, yang ditunjukkan dengan menghaturkan saiban seusai memasak, dan sisi palemahan ditunjukkan dari penggunaan kayu untuk bahan bakar memasak, bukan dengan gas alam.
Sekitar pukul 06.00 Wita, rata-rata krama usai memasak. Seluruh warga terlihat membersihkan peralatan memasak yang telah dipergunakan. Begitu pula dengan dapur yang dipergunakan harus dibersihkan agar jalan-jalan sepanjang desa menjadi bersih kembali.
Sosiawan menyebut, Nyakan Diwang sebagai salah satu tradisi dan sekaligus sebagai aset budaya yang perlu selalu dijaga dan dilestarikan. Terlebih, tradisi ini dilakukan berdasarkan pada dresta atau tradisi yang sudah diterima secara turun-temurun. Karenanya dari sejak dahulu hingga sekarang tradisi ini masih dapat bertahan dan dilaksanakan dalam setahun sekali.
“Sudah sepantasnya untuk dipelihara dan dilestarikan. Kewajiban itu sudah pasti menjadi tanggung jawab warga desa. Apalagi Nyakan Diwang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nusantara oleh Kemendikbud sejak Oktober 2020,” pungkasnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya