Dosen Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja Ni Made Yunitha Asri Diantary mengatakan, dalam Weda juga diajarkan untuk menghindari berhubungan seks pada waktu-waktu saat tengah malam. Karena diyakini pada waktu-waktu yang tidak tepat, seperti sandya dan tengah malam adalah waktu makhluk dan roh-roh jahat sedang berkeliaran dan saling berebut untuk mendapatkan kesempatan terlahir kembali.
“Weda menegaskan bahwa proses masuknya atman (jiwa) ke dalam kandungan terjadi pada saat pembuahan sel telur oleh sperma, sehingga jika terjadi pada saat yang tidak tepat dikhawatirkan yang akan menjelma adalah jiwa-jiwa yang berasal dari makhluk-makhluk yang bertabiat jahat,” katanya.
Untuk menghasilkan keturunan suputra, maka diharapkan memenuhi tata krama melakukan hubungan seksual. Bila hal tersebut tidak terpenuhi maka akan berakibat pada kegagalan reproduksi, dan bahkan menghasilkan keturunan yang cacat fisik maupun mental.
Menurutnya, di Bali memiliki ritual Magedong-gedongan, setelah usia kandungan menginjak 6 bulan sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bayi yang nantinya lahir menjadi anak suputra (anak yang baik). Selain berfungsi sebagai penyucian terhadap bayi, juga berarti agar kedudukan bayi dalam kandungan agar baik kuat tidak abortus.
Secara batiniah agar sang bayi kuat mulai setelah lahir menjadi orang yang berbudi luhur, berguna bagi keluarga dan masyarakat dan juga memohonkan keselamatan atas diri si ibu agar sehat, selamat waktu melahirkan.
Dalam Lontar Angastyaprana, diyakini pada waktu hamil telah menginjak umur 6 bulan, maka para Dewata telah lengkap menganugerahi organ tubuh manusia. Maka calon ayah dan calon ibu sudah menyiapkan diri untuk melakukan upacara Magedong-gedongan, mencari hari baik dengan cara mohon petunjuk yang mengetahui dan dapat memberikan petunjuk, termasuk urutan upacaranya dan banten yang diperlukan.
“ Ibu yang sedang hamil perlu melakukan pantangan-pantangan dengan menjaga perbuatan dan perkataan yang kurang baik dan sebaliknya mendengarkan nasihat-nasihat serta membaca buku-buku wiracarita atau buku lain yang mengandung pendidikan yang bersifat positif. Sebab, tingkah laku dan Ibu di waktu hamil akan memengaruhi sifat anak yang masih di dalam kandungan,” pungkasnya.