Lontar yang menjadi salah satu peninggalan adiluhung ini menjelaskan gejala-gejala penyakit yang dialami anak-anak.
Prsktisi usada Bali, Gede Sutana mengatakan, mengenal dan memahami gejala-gejala penyakit tersebut berdasarkan Lontar Usada Rare memberikan pemahaman dalam mengenal penyakit anak-anak melalui cara diagnosa atau tatenger secara tradisional Bali dalam sebuah catatan lontar.
Dengan memahami gejalanya, maka akan memahami cara mengobatinya dengan kearifan tradisional Bali.
Dalam Lontar Usada Rare ini dikelompokkan jenis penyakit anak diantaranya penyakit upas, penyakit tiwang, penyakit sebaha, penyakit jampi, penyakit sisik, dan kelompok penyakit lainnya.
“Penyakit-penyakit ini sering diderita oleh anak, sehingga sangat baik untuk dipahami ciri atau gejala penyakitnya,” ujar Sutana.
Semisal penyakit upas. Penyakit ini merupakan jenis penyakit yang dominan menyerang kekebalan tubuh. Upas atau yang dikenal dengan nama dermatitis merupakan jenis penyakit yang menyerang kulit manusia. Ia menyebut, masyarakat Bali memiliki cara tersendiri untuk menyembuhkan upas. Dalam Lontar Usada Rare ditemukan gejala penyakit upas yang dialami oleh anak-anak.
Sutana merinci, ada sejumlah ciri-ciri sakit upas diantaranya anak merasa lemah tanpa tenaga, dinamakan terserang penyakit upas tawun. Jika ada tampak garis-garis merah pada kuku itu dinamakan terserang penyakit upas hyang. Jika pada kuku si anak tampak gumpalan darah, dinamakan terkena penyakit upas warangan. Sedangkan bila mata si anak terlihat tampak kuning agak kemerahan, dinamakan terserang penyakit upas dewa.
“Kalau anak mengalami mual-mual atau muntah-muntah, disertai dengan enek, sesak napas, penyakit itu dinamakan penyakit upas uyak, jika anak merasa mual saja dan enek, itu dinamakan terserang penyakit upasilali,” paparnya.
Selain upas, dalam lontar juga diulas tentang tatenger penyakit tiwang. Penyakit ini merupakan kondisi penurunan kesadaran yang berat pada fungsi serebral.
Tiwang atau yang disebut sebagai koma merupakan keadaan tidak sadar yang dalam, yang tidak dapat dibangunkan akibat disfungsi. “Penyakit tiwang ini dapat menyebabkan seseorang tidak merespon ketika diberikan rangsangan. Biasanya faktor penyebab penyakit tiwang adalah adanya infeksi atau inflamasi, struktural, dan metabolik, nutrisi, atau toksik,” ungkapnya.
Adapun gejala penyakit tiwang dalam Lontar Usada Rare, misalnya tangan, kaki, dan tubuh si pasien kejang-kejang, matanya agak memerah, dinamakan terserang tiwang penyu.
Apabila mulut menganga atau tertutup rapat, bulu tubuhnya berdiri, rambutnya kaku, dinamakan terserang penyakit tiwang sona. Jika mata si anak tampak kering dan berkedip, dinamakan terserang penyakit tiwang kapi. Jika anak berbengah-bengah, tandanya terserang penyakit tiwang jaran.
Ada lagi tanda-tanda penyakit tiwang pada anak, yaitu jika anak kejang kaku, dinamakan terserang penyakit tiwang gurita. Tubuh anak terasa berat, dinamakan terserang penyakit tiwang kebo. “Jika anak menangis kesakitan siang-malam, tubuhnya kejang-kejang, dinamakan terserang penyakit tiwang kupu-kupu. Jika anak kadang kala tampak pucat, mukanya tampak agak memerah, dinamakan terserang penyakit katepuk tegah dewa,” paparnya.
Dalam Lontar Usada Rare, juga diulas secara detail penyakit sebaha atau edema. Secara medis, penyakit ini merupakan penumpukan cairan secara abnormal di ruang interselular tubuh. Cairan ini kemudian menumpuk pada jaringan di sekitarnya dan menyebabkan pembengkakan.
Gede Sutana mengatakan, sebaha bisa terjadi di seluruh bagian tubuh seperti tangan, kaki, dan lain sebagainnya. Gejala penyakit itu dalam lontar usada disebutkan apabila tubuh anak terasa gerah setiap sore, napasnya kencang. Napas yang keluar dari hidungnya terasa panas, pertanda si pasien menderita panas.
“Jika napasnya mengendur, jari-jari tangan dan kakinya dingin setiap sore, napas yang keluar dari mulut terasa panas, pertanda anak menderita penyakit sebaha gantung,” sebutnya.
Selanjutnya apabila aliran tenaga panas, tangan dan kakinya dingin, pertanda anak menderita sebaha jampi. Begitu pula bila bibir anak pecah-pecah, napas di hidung terasa dingin dan agak tertahan, jari-jari kakinya dingin, sekujur tubuhnya gerah, pertanda si pasien menderita sebaha jampi.
Jika anak bibirnya kering, dan mual-mual, napas di hidung terasa panas, gerah setiap menjelang sore, tangan dan kakinya dingin, pertanda si pasien menderita sebaha jampi. Apabila jari-jari kaki si anak panas, napas di hidung terasa dingin, pertanda si pasien menderita asrep kapendem.
Jika napas di hidung anak terasa panas, jari-jari kakinya panas, kukunya tampak kemerahan, pertanda si pasien menderita panas terus. Jika jari-jari kakinya dingin, bibirnya terbuka-tertutup, pertanda anak menderita srep terus dan si bayi tidak mau makan dinamakan menderita sebaha nyuh.
Selanjutnya ada pula penyakit jampi. Dipaparkan bahwa jampi ditandai dengan sakit di pinggang, bibir, dan lidah, serta merasa sesak. “Jika anak menderita jampi dan perut kembung, dinamakan penyakit jampi agung, dan terasa kaku di bagian ulu hati, agak perih, batuk agak kering tidak putus-putusnya. Jika anak menderita mual-mual dan mengeluarkan buih dinamakan penyakit jampi mual,” jelasnya.
Ditambahkan Sutana, masyarakat perlu memahami isi dari Lontar Usada Rare dan gejala penyakit anak yang terdapat dalam lontar itu, agar mampu mengkombinasikan catatan leluhur dengan dunia pengobatan dan kedokteran masa kini.
“Catatan-catatan dalam lontar usada, terutamanya Lontar Usada Rare masih sangat relevan dengan gejala-gejala penyakit yang dirasakan anak,” pungkasnya.