Aksi pawang hujan di Sirkuit Mandalika menuai kontroversi. Namun, terlepas dari hal tersebut, pawang hujan rupanya memiliki dharma penerangan yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugasnya.
Seperti diceritakan penekun spiritual yang juga juru terang Jro Putu Agus Panca Saputra. Jro Panca sudah menjadi juru terang sejak 2014 silam. Keahlian ini ia peroleh dari proses belajar melalui lontar penerangan. Selain itu, ia juga dibimbing oleh seorang guru.
Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (22/3), Jro Panca mengatakan bahwa menjadi juru terang memiliki beragam tantangan untuk dijalani.
“Saya perlu waktu belajar hampir 3 tahun agar bisa mendalami sebagai juru terang (pawang hujan). Kebetulan saya mewarisi lontar penerangan dari kakek yang juga seorang balian. Memang semua butuh proses untuk belajar. Semua orang bisa, mungkin hanya masalah waktu saja. Ada yang lama, ada yang cepat,” tuturnya.
Pria berusia 32 tahun itu menambahkan bahwa saat memulai belajar, seorang juru terang wajib menghafal sejumlah mantram. Setiap pukul 12.00 seorang yang belajar menjadi juru terang harus menatap teriknya sinar matahari semampunya.
Ritual ini dilakukan untuk memasukkan taksu penerangan ke dalam raga si juru terang. Ia menyarankan agar ritual ini dilaksanakan bertepatan saat Tumpek Landep. Pertimbangannya karena saat itu diyakini Dewa Brahma sedang mayoga.
“Lamanya (menatap matahari) sekuat tenaga. Prosesnya sambil bersila. Boleh lokasinya sembarangan. Saat itu juga disarankan untuk membayangkan api magma bumi masuk dari tulang ekor, kemudian disimpan bayangan api tersebut di perut,” paparnya.
Tidak lupa juga harus diikuti dengan mengucapkan mantram semampunya. Setelah itu juga bayangan api magma bumi keluarkan dari mulut. Selanjutnya ada pula proses membayangkan menarik api matahari masuk melalui ubun-ubun, untuk disimpan di jantung. “Keluarkan dari mata. Keluarkan juga mantram semampunya. Tujuannya agar bisa membayangkan untuk berkonsentrasi memecah mendung,” katanya.
Prosesi masih berlanjut. Saat malam hari di Kemulan, diharapkan dapat nunas panugrahan menggunakan peras pajati, siap biying mapanggang, tumpeng barak sia, pucuk bang dua dan menggunakan air. Air tersebut ditempatkan menggunakan sibuh (tempurung kelapa) yang berisi sari pucuk bang dan kalpika. Untuk nunas panugrahan ratuning penerangan di Kemulan. Prosesi itu dilakukan sekali saja.
Jro Panca pun menyebutkan, ada banyak gelaran yang menjadi pilihan dalam menekuni juru terang. Baik dalam membuat hujan atau membuat cuaca terang benderang dalam berbagai momen. Seperti pelaksanaan ritual panca yadnya, maupun berbagai macam acara yang dilaksanakan agar berjalan lancar tanpa adanya gangguan cuaca.
Umumnya, juru terang mempelajari berbagai gelaran (ajian). Seperti gelaran Bangke Maong, gelaran Payung Sejagat, gelaran Wenara Petak, dan gelaran Sang Hyang Magagana.
Perbedaan gelaran itu terletak di sarana dan mantram. Sebut saja gelaran Bangke Maong. Gelaran ini berfungsi untuk menurunkan hujan. Oleh karena itu, sang juru terang harus berendam di laut atau di bak mandi.
“Kalau sudah gelaran ini dilakukan, jangan sekali-kali dilawan dengan aji penerangan. Karena apapun ajiannya (nerang) akan kalah. Semakin dilawan, akan semakin deras hujannya. Risikonya bisa kalah bahkan bertaruh nyawa,” tuturnya.
Sedangkan Payung Sejagat dilakukan bertujuan untuk penerangan. Biasanya, juru terang melakukan pemujaan ini di Kahyangan Tiga. Tujuannya untuk memohon batas wilayah dan durasi saat menerang.
“Jadi juru terang mapinunas (memohon), nerangnya mulai kapan dan di wilayah mana saja. Mulai dari tanggal tertentu, atau waktu tertentu,” imbuhnya.
Selanjutnya, Gelaran Wenara Petak (kera putih) menggunakan sarana kober Hanoman dan gongseng. Sarana tambahannya adalah di bagian bawah (tanah) menggunakan baleman (api) yang berasal dari daun liligundi atau daun intaran disertai dengan mantram.
Untuk gagelaran Sang Hyang Magagana hanya untuk kawasan yang lebih sempit saat nerang. Semisal saat upacara yadnya di wilayah rumah tangga. Umumnya, sarananya menggunakan sarana kayu merajah, sapu lidi setiap sudut karang sang yajamana sebagai panyengker.
“Sebenarnya sedikitnya ada 33 pagelaran untuk nerang. Ilmunya Anjani saja ada beberapa gelaran. Mulai dari puasa putih selama 42 hari. Makan nasi putih dan air putih selama 42 hari. Kalau gelaran Subali selama 42 makan umbi-umbian, kentang, singkong. Kalau gelaran Sugriwa dengan makan buah-buahan selama 42 hari. Dengan posisi tapa ngalong. Kaki di bergelayut di atas pohon,” ungkapnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya