Pelaksanaan ngusaba tahun ini berlangsung pada 17-19 Maret lalu. Bendesa Adat Pesinggahan I Wayan Sujana beberapa waktu lalu mengatakan, sehari setelah prosesi persembahyangan di pura desa, petani di Pesinggahan tidak beraktivitas. Kegiatan di persawahan ditiadakan selama sehari.
Kata Sujana, Ida Sesuhunan sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa turun dan beriring menuju persawahan di desa setempat. Kemudian iring-iringan yang juga diikuti warga beranjak menuju Pura Bedugul Subak Pesinggahan. Setelah serangkaian prosesi digelar itulah, petani tidak boleh beraktivitas di sawah.
Menurut kepercayaan warga setempat, pantangan beraktivitas di sawah adalah simbol penghormatan kepada batara Dewi Sri. Warga juga meyakini hal itu sebagai simbol untuk mencapai kemakmuran. Warga berharap Usaba Nini dapat berdampak positif bagi warga Pesinggahan. "Jadi sudah berlaku secara turun-temurun," ucap Sujana.
Menurutnya, Ngusaba Nini sebagai bentuk persembahan masyarakat kepada Tuhan atas kelimpahan berkah yang diberikan. Apalagi wilayah desa dikelilingi persawahan atau lahan produktif. Tatanan masyarakat setempat sebagian juga berkecimpung di pertanian. Persembahan kepada Dewi Sri adalah wujud bakti warga agar kemakmuran dapat selalu menyertai.
Rangkaian Ngusaba Nini juga dilengkapi dengan dihaturkannya beragam jenis tari wali saat persembahyangan di Pura Desa. Seperti Tari Rejang, Tari Baris, Tari Topeng dan lainnya. Tari-tarian yang bersifat sakral dipentaskan sebelum maupun sesudah persembahyangan.
Editor : I Putu Suyatra