Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bersyukur dengan Hasil Tani, Warga Tumbak Bayuh Perang Gandu

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 1 April 2022 | 19:50 WIB
CERIA : Warga Desa Adat Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Badung laksanakan tradisi Maperang Gandu atau sering disebut Tajen Pengangon dengan ceria, yang digelar bertepatan dengan Tumpek Kandang atau Tumpek Uye. Video tumbakbayuh, doktrinaya/tangkapan layar
CERIA : Warga Desa Adat Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Badung laksanakan tradisi Maperang Gandu atau sering disebut Tajen Pengangon dengan ceria, yang digelar bertepatan dengan Tumpek Kandang atau Tumpek Uye. Video tumbakbayuh, doktrinaya/tangkapan layar
BADUNG, BALI EXPRESS- Desa Adat Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Badung memiliki tradisi Maperang Gandu atau sering disebut Tajen Pengangon dan Perang Tipat Gandu.

Bendesa Adat Tumbak Bayuh Ida Bagus Gede Widnyana mengatakan, tradisi Perang Gandu digelar bertepatan dengan Tumpek Kandang atau Tumpek Uye.
Tradisi ini digelar bersamaan dengan pujawali yang ditujukan kepada Ida Bhatara yang berstana di Palinggih Pan Balang Tamak. Palinggih ini berada di jaba Pura Desa lan Puseh Tumbak Bayuh.

“Jadi tradisi ini tidak bisa dipisahkan dengan makna dari Tumpek Kandang, karena sebagai penghormatan kepada Ida Bhatara Siwa dalam perwujudan Rare Angon, dan Ida Bhatara yang berstana di Palinggih Pan Balang Tamak,” ujar Ida Bagus Gede Widnyana saat ditemui Kamis (31/3).

Photo
Photo
Bendesa Adat Tumbak Bayuh Ida Bagus Gede Widnyana. Putu Resa Kertawedangga/Bali Express

Tradisi Maperang Gandu ini juga sebagai wujud syukur dari masyarakat setempat, lantaran segala usahanya, baik di pertanian dan peternakan sudah berjalan lancar. Ia pun menyebutkan tradisi ini sudah ada sejak berdirinya Pura Kahyangan Tiga di desanya. Bahkan ia tidak mengetahui secara pasti kapan pertama kalinya tradisi ini mulai dilaksanakan.

“Tetapi yang kami ketahui Desa Tumbak Bayuh ada sejak zaman pemerintahan Raja Mengwi yang berada di prasasti Dalem Petilik Badbadan. Di sana tertulis sekitar tahun 1600 sampai 1700 masehi. Mungkin setelah ekspansi Kerajaan Mengwi sekitar tahun tersebut dilakukan pembangunan,” ungkapnya.

Awalnya peserta dari tradisi ini, terang Widnyana, berdasarkan cerita dari Rare Angon yang merupakan perwujudan anak-anak. Sehingga dalam prosesi perang gandu ini diikuti oleh anak-anak atau krama rare.

Kemudian berdasarkan paruman desa pada tahun 2016 disepakati untuk mengikutkan remaja. “Kami melihat dari simbol Rwa Bhineda, itu adalah pertemuan dari usia yang mendekati pernikahan. Sehingga sampai sekarang yang mengikuti tradisi itu dari anak-anak hingga remaja. Dari siswa kelas empat SD sampai sebelum menikah,” terang Penyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Badung.

Prosesinya diawali dengan pujawali yang dihaturkan kepada Ida Bhatara yang berstana di Pelinggih Pan Balang Tamak. Kemudian persembahyangan bersama. Setelah itu jero mangku akan menghaturkan Pajati upasaksi dan di tengah lokasi Perang Gandu dihaturkan segehan. Sekaligus disiapkan tirta pangelukatan yang akan dipercikkan di awal perang di jaba Pura Desa lan Puseh Tumbak Bayuh.

“Dalam prosesi tradisi ini akan dibuatkan garis tengah dan garis pembatas di antara kedua belah kelompok. Dari kelompok pria dan wanita yang nantinya akan saling melempar gandu. Perang ini akan dilaksanakan sebanyak tiga kali, pertama dipisah antara kelompok pria dan wanita, kemudian posisinya ditukar, dan terakhir baru akan bercampur di dua kelompok tersebut ada pria dan wanita,” jelasnya. (esa)

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #Warga Tumbak Bayuh #balinese #Perang Gandu #Bersyukur dengan Hasil Tani #hindu #pura #budaya #tradisi