Kelian Adat Dharmajati Desa Tukadmungga, Ketut Wicana mengatakan tradisi sudah diwariskan secara turun-temurun oleh para pendahulunya.
Umumnya, di Bali banten caru biasanya dilebar usai prosesi pacaruan. Namun tidak demikian dengan di desa setempat. Sarana caru berupa daging Godel (anak sapi) ini justru diperebutkan oleh truna-truni di empat banjar yang ada di Desa Tukadmungga. Usai diperebutkan, daging Godel tersebut selanjutnya dinikmati bersama-sama.
Sebelum tradisi Magebeg-gebegan dimulai, diawali dengan upacara pacaruan yang dilakukan di perempatan agung (catus pata) desa. Krama memohon izin atau ngaturang piuning ke sejumlah pura, baik itu pura Kahyangan Tiga maupun pura-pura pasanakan (Pura Tegal Penangsaran, Pura Beji dan Pura Tirta) dengan sarana banten apajatian atau banten pajati lengkap dengan runtutannya agar prosesi berjalan lancar.
Godel atau anak sapi yang dijadikan caru terlebih dulu menjalani prosesi Mapepada di catus pata desa setempat. Godel tersebut diarak mengelilingi Palinggih Taksu Gede (Palinggih Pecalang Agung) yang berada di tengah-tengah catus pata sebanyak tiga kali.
“Konsep yang digunakan yaitu murwa daksina, yang artinya bergerak menuju ke atas atau menuju tingkatan yang lebih tinggi. Dengan harapan roh dari hewan yang digunakan untuk upakara, dapat terlahir kembali menjadi makhluk yang derajatnya lebih tinggi,” jelasnya.
Tepat pukul 16.00 Wita, suara kulkul pun dibunyikan oleh prajuru adat. Ini menjadi tanda jika persembahyangan sudah dimulai. Maka warga lanang dan istri Desa Adat Dharmajati Tukadmungga mulai berdatangan untuk melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Dalem dengan membawa sarana banten yang berisi nasi selem (hitam), putih dan membawa danyuh (daun kelapa kering).
Acara terus berlanjut dengan pacaruan. Dimana, sarana yang digunakan adalah Caru Panca Sata. Sarana ini dengan memakai lima ekor ayam yaitu ayam berbulu putih, ayam berbulu merah atau biing, ayam berbulu kuning atau siungan, ayam berbulu hitam atau ireng dan ayam berbulu campuran atau brumbun.
Di samping Caru Panca Sata diletakkan caru Godel dengan posisi pertama kepala, tangan, kaki atau grigis, setelah itu ditutupi oleh kulitnya atau bayang-bayang disertakan olahan godel 99 tanding. Diantaranya sate pulung pulung lawar barak dan putih, dilengkapi dengan segehan cacahan warna merah dan putih, tumpeng, tulung, keben, dan kwangen. Semua jumlahnya 99 tanding sesuai dengan jumlah urip suku patnya yaitu seekor Godel.
“Setelah tiga kali mengelilingi caru, sanggah cucuk dibuang, hanya tersisa caru Godel. Nah sarana inilah yang akan dipakai sarana Magebeg-gebegan untuk diperebutkan oleh truna-truni yang ada di empat banjar adat di Tukadmungga,” paparnya.
Begitu aba-aba tradisi Magebeg-gebegan Godel dimulai, keempat warga banjar, yakni Banjar Dharma Semadi, Dharma Yasa, Dharma Yadnya dan Dharma Kerti langsung bergerak, memperebutkan kepala Godel tersebut. Suasana semarak ditambah tepuk tangan krama yang menyaksikan tradisi ini.
Jika kepala Godel tersebut sudah berhasil direbut, maka dilanjutkan dengan memasak kepala godel menjadi hidangan. Seluruh truna-truni yang terlibat Magebeg-gebegan ikut untuk menyantap daging Godel yang telah dimasak. “Secara tidak langsung ini mempererat solidaritas, sportivitas lewat ritual Magebeg-gebegan,” sebutnya.
Diceritakan Wicana, tradisi Magebeg-gebegan tak lepas dari kisah masa lalu, dimana tanaman padi di Desa Tukadmungga pernah diserang hama tikus. Tak pelak, membuat paceklik.
Warga yang bingung akhirnya memohon petunjuk leluhur hingga mendapatkan petunjuk agar desa melaksanakan pacaruan sebelum Hari Raya Nyepi dengan sarana seekor sapi. Syaratnya, sapi yang dijadikan sarana pacaruan tidak dibolehkan dalam keadaan cacat. Kondisinya juga harus dalam keadaan sehat.
Dalam pawisik (petunjuk gaib) itu dikatakan jenis kelamin sapi boleh memakai betina maupun jantan. “Kami akan terus meneruskan tradisi ini, dan akan tetap dilestarikan dengan tujuan menjaga persatuan dan mempererat persaudaraan krama desa,” pungkas Wicana.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya