Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sempat Ditinggalkan, Ada Sisi Mistis, Netep Lagi Melukis Wayang Kaca

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 6 April 2022 | 16:07 WIB
Photo
Photo

Seni lukis wayang kaca menjadi salah satu ikon Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Seni lukis ini menjadi sumber penghasilan warga setempat dengan berbagai motif lukisan wayang yang memiliki banyak peminat.


SINGARAJA, BALI EXPRESS - Lukisan wayang kaca, merupakan seni lukis yang menggunakan media kaca bening sebagai sarana untuk menuangkan ide lukisan. Tak hanya indah, proses melukisnya pun tergolong unik. Sebab, dilakukan secara terbalik. Pada umumnya menggunakan media kaca dengan format dua dimensi, namun dalam pengembangannnya menggunakan kaca dengan format 3 dimensi, seperti toples kaca, genteng kaca, gelas untuk minum, botol kaca maupun kaca mobil bekas.

I Nyoman Netep adalah salah seorang seniman lukis wayang kaca yang sudah hidup dari hasil melukis. Pria berusia 62 tahun itu bergelut dengan dunia seni itu sejak berumur 8 tahun. Netep yang kini dikaruniai tiga orang anak ini belajar  melukis dari sang kakek,  almarhum Wayan Sangra atau yang akrab disapa Pan Alem.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (4/4) Netep menceritakan bahwa pelopor lukis wayang kaca di desanya berawal dari almarhum Jro Dalang Diah.

Selain dikenal sebagai pelopor seni lukis kaca, Jero Dalang Diah juga dikenal sebagai dalang dan undagi. “Memang dari beliau (Jro dalang Diah) yang mengenalkan lukisan wayang kaca di Nagasepaha. Banyak orang yang belajar melukis wayang dari Jro Dalang Diah,” ujarnya.

Netep menambahkan, dirinya termasuk angkatan kedua yang telah menekuni dan menjadikan lukis kaca sebagai penghasilan utamanya. Setelah sang kakek Wayan Sangra meninggal pada tahun 1977, Netep sempat berhenti melukis. Ia memilih menjadi tukang ukir untuk menyambung hidup.

Namun pada tahun 1987, gairah melukisnya perlahan hidup kembali. Ia memutuskan untuk memulai lagi melukis wayang kaca. Kala itu, harga per lukisan Rp 10 ribu. Pembeli pertamanya berasal dari kawasan Pacung, Baturiti, Tabanan.

Naluri melukisnya terus bertumbuh. Sekitar tahun 1990-an satu persatu lukisannya kembali terjual. Harganya kian melambung. Satu lukisan dijual dengan harga Rp 35 ribu. Ukurannya 35 cm x 50 cm.

“Banyak yang suka membeli lukisan wayang kaca, seperti horoskop atau jenis kelahiran berdasarkan pesanan. Ada juga dengan penjelasan watak hari berdasarkan pawukon seperti yang termuat dalam kalender Bali. Di bagian bawah gambar, disisakan ruang segi empat agar si pemesan dapat memuat foto,” imbuhnya.

Kebutuhan akan lukisan wayang kaca terus terjaga. Saat ini satu lukisan dijual Rp 350 ribu. Pesanannya juga melonjak. Setiap bulan, Netep bisa menjual antara 5-10 lukisan wayang kaca, yang didominasi horoskop. Satu buah lukisan wayang kaca itu ia garap selama 1,5 hari.

Selain horoskop, ia juga menerima pesanan lukisan wayang yang berukuran 100 cm x 90 cm. Lukisan itu biasanya dipasang di pura, sanggah merajan dadia. Harganya pun bervariasi, tergantung tingkat kerumitan, mulai dari Rp 1,5 jutaan.

Dahulu lukisan wayang kaca sering digunakan di bale piasan. Ukurannya minimal 1 meter kali 90 cm. Harganya bisa  tembus Rp 1,5 juta. Jenis wayang yang dilukisnya pun beragam. Mulai dari kisah Ramayana, Bharatayudha, Sutasoma, Arjuna Wiwaha.

Ada pula wayang yang dilukis seperti Kresna, Siwa, Tualen, Sangut, Merdah, hingga Rangda. “Semua tergantung pesanan. Makanya kalau balian, biasanya memesan tentang lukisan wayang berupa Rangda, Dewa Siwa, Tualen,” paparnya.

Disinggung terkait kesulitan, Netep justru mengaku sama sekali tidak ada hal yang berat dalam melukis wayang kaca. Menurutnya, hal itu wajar karena ia sudah terbiasa melukisnya. Namun, yang justru terjadi adalah persoalan teknis, seperti saat musim hujan.  Ia kadang mengalami kesulitan mengeringkan lukisan. “Kalau urusan mencampur warna itu spontan. Tidak ditakar. Tergantung kebutuhan. Dikira-kirakan saja,” sebutnya.

Proses membuat lukisan menggunakan tinta cina batangan untuk membuat pola (sketsa) pada kaca. Penggunaannya tinta dicairkan terlebih dulu dengan cara digosokkan pada tempat yang permukaannya lebih kasar dan dicampur air.

Selanjutnya ada penggunaan pernis digunakan sebagai bahan pengikat serbuk prada, dengan cara mencampur serbuk prada dengan pernis. Sehingga kedua bahan tersebut menjadi cat, dengan cara ini prada bisa menempel pada kaca.

Selama melukis, Netep lebih memilih menggunakan cat berbahan dasar minyak yang biasa disebut dengan cat besi. Sebagai pengencernya, ia juga menggunakan tiner supaya cat lebih cepat kering.

Ada teknik atau proses berbeda yang biasa dilakukan dalam melukis kaca Nagasepaha. Yaitu dalam tahap membuat sketsa pada kaca menggunakan bahan tinta cina batangan dan menggunakan pena sebagai alatnya.  Netep menjelaskan, pada tahapan ini, pelukis harus memiliki keahlian khusus karena sulitnya menggunakan alat ini. Menggunakan tinta cina dengan menggunakan alat pena dapat menghasilkan garis yang artistik, karena tebal tipis garis bisa tercapai.

Sebelum membuat sketsa pada kaca (ngreka) terlebih dulu membuat pola pada kertas. Bentuk figure wayang lukis kaca pada dasarnya sama dengan figure pada wayang kulit.

Proses pertama dilakukan yaitu membuat sket, yang biasa disebut ngreka.Tahapan ini seorang pelukis harus benar-benar fokus dalam berkarya. Karena tahapan ini seniman harus berpikir terlebih dahulu tentang komposisi (ngedum karang), menguasai bentuk-bentuk dasar dan karakter setiap figur atau tokoh pewayangan.

Setelah bentuk figur pewayangan dibuat kemudian proses nyawi (membuat kontur detail ornamen) dan muluin (membuat rambut atau bulu pada tangan, kaki dan bagian tubuh tertentu).

Kemudian dilanjutkan dengan mrada (proses memberi warna dengan cat prada/warna emas). Warna emas pada setiap perhiasan dan mahkota dari setiap tokoh pewayangan.

Selanjutnya ada proses mutihin atau memberi warna putih pada setiap ujung ornament. Ini bertujuan untuk memperjelas bentuk ornamen. Proses mewarnai dengan tiga tingkatan warna, dari warna terang sampai warna yang lebih gelap.

Proses mewarnai muka ini dimulai terlebih dulu mewarnai mata dan bibir, setelah kering kemudian dilanjutkan mewarnai dasar kulitnya. “Paling akhir membuat lukisan pegunungan, langit maupun jalan sesuai dengan skillnya,” pungkasnya.

Ada sisi mistis dalam proses melukis wayang kaca yang dilakukan seniman di Desa Desa Nagasepaha ini. Sebelum melukis, Wayan Netep selalu mengawalinya dengan berdoa di pelangkiran. Tujuannya agar taksu seninya muncul saat melukis. Terlebih, menulis secara terbalik memang membutuhkan ketelitian yang tinggi.

Bila ada kesalahan, baik dalam pewarnaan maupun mengisi tulisan, maka harus dihapus. Bahkan, harus menunggu agar cat yang dioleskan itu kering, barulah dibersihkan dengan silet.

Menariknya, Netep mengaku pernah melukis wayang kaca berwujud Rangda. Tahunnya ia lupa, tetap dia masih ingat betul bahwa lukisan wayang kaca yang ia buat sempat 'hidup'. Sampai para tetangga di rumahnya mengaku bermimpi dicari Rangda.

Ia pun akhirnya sadar jika lukisan Rangda yang dibuatnya memang mataksu. Khawatir ngerebeda (mengganggu), ia akhirnya memutuskan untuk menyerahkan lukisan tersebut kepada seorang balian.

“Memang kalau melukis Rangda, Tualen, Dewa Siwa, perlu waktu khusus. Seperti Kajeng Kliwon Enyitan, Purnama, Tilem. Tujuannya agar lukisan yang dihasilkan mataksu,” ungkapnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#pelukis Wayang Kaca #ritual #balinese #Sempat Ditinggalkan #hindu #Nyoman Netep #budaya #tradisi #Nagasepaha #Ada Sisi Mistis