Tari Kidang Edan dipentaskan warga adat Sekumpul, tujuannya agar dewa-dewi merasa senang dan berkenan melindungi pertanian dari serangan binatang atau hama penyakit. Sehingga hasil panen menjadi berlimpah.
Krama subak mempersembahkan Tari Kidang Edan saat pujawali di Pura Bedugul bertepatan dengan Purnama Sadha.
Perbekel Desa Sekumpul I Ketut Suarta mengatakan sarana pelengkap Tarian Kidang Edan diantaranya daun-daun dadap, canang, sampian, lamak, ambu (daun ental yang masih muda), tegen tegenan, lidi. Ada juga daun kayu dadap berfungsi untuk mengusir hama penyakit, mengusir roh-roh jahat.
Canang merupakan lambang dari purusa dan pradana diikatkan di kepala penari sebagai destarnya. Sampian dipakai di leher sebagai perwujudan dari Tuhan.
Lamak yaitu simbol keagamaan yang lengkap misalnya simbol gunung, kekayonan, cili-cilian, bulan bintang, matahari dan sebagainya digantung dileher.
Ambu sebagai lambang kemenangan dharma melawan adharma, diikat di pinggang yang disimbolkan sebagai bulu kidang. Tegen-tegenan merupakan bebantenan yang dipukulnya, ini berguna untuk mensakralkan Tari Kidang Edan.
Lidi berfungsi untuk mencambuk penari Kidang Edan. Umbi-umbian yang digunakan mempunyai arti lambang lapisan Tri Bhuana, kacang-kacangan juga merupakan lambang lapisan dunia atau persembahan secara simbolis atas hasil pertanian yang telah diperoleh dan kacang-kacangan ini dibungkus dengan tapis.
Ketupat segi empat sebagai lambang Dewi Sri. Cacahan lambang dari isi dunia, jajan begina berbentuk persegi empat panjang sebagai lambang Catur Purusa Arta (empat tujuan hidup).
Porosan sebagai lambang dari penunggalan Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) atau pertemuan antara akasa dan pertiwi. Pinang sebagai lambang Dewa Brahma. “Tuak adalah minuman sang kala tiga agar sang kala tidak mengganggu,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya