Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Aci Tatebahan di Bugbug Diyakini Bisa Sembuhkan Penyakit

I Putu Suyatra • Sabtu, 16 April 2022 | 01:09 WIB
TATEBAHAN: Masyarakat Desa Adat Bugbug melaksanakan Aci Tatebahan di Pura Bale Agung, Desa Adat Bugbug, Karangasem, pada Jumat (15/4). (istimewa)
TATEBAHAN: Masyarakat Desa Adat Bugbug melaksanakan Aci Tatebahan di Pura Bale Agung, Desa Adat Bugbug, Karangasem, pada Jumat (15/4). (istimewa)
KARANGASEM, BALI EXPRESS - Setiap tahun, ketika wewaran beteng menjelang rahina purnama sasih Jyestha, krama Desa Adat Bugbug, Karangasem berkumpul di Pura Bale Agung desa setempat. Tampaknya, kumpulnya warga setempat bertujuan untuk melaksanakan tradisi atau aci Tatebahan yang digelar setiap setahun sekali. Pada tradisi tersebut, masyarakat setempat akan melakukan aksi saling pukul dengan menggunakan pelepah pisang.

Ketua Baga Parhyangan Desa Adat Bugbug, Jero Wayan Artana menjelaskan, tradisi ini merupakan warisan turun temurun. Itu dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Aci Tatebahan ini disebut sebagai wujud syukur masyarakat setempat karena telah diberikan hasil pertanian yang melimpah.

Sesuai dengan makna dari tradisi tersebut, sesajen yang dihaturkan pun tidak menggunakan daging, melainkan berasal dari hasil bumi yang diperoleh masyarakat setempat.

“Entah itu ubi, kacang, kelapa yang diparut menjadi telengis,” ujar Jero Wayan Artana pada Jumat (15/4).

Lebih lanjut, Jero Artana menjelaskan, aci tatebahan ini adalah sebagai wujud rasa bhakti kepada Ida Bhatara Gde Praja Petak, atau yang lebih terkenal dengan nama Ida Bhatara Gde Bandem. Beliau adalah putra dari Ida Bhatara Gde Gumang yang beristana di Pura Kahuripan Toh Jagat yang terletak di Dusun Ulunpadang.

“Aci ini kan Ida Bhatara sane nuenang, itu artinya kita mempersembahkan upacara ini, banten ini kepada putra beliau, yakni Ida Bhatara Gde Bandem,” lanjutnya.

Pada tradisi tersebut, para krama lanang (laki-laki) akan melakukan aksi saling pukul menggunakan pelepah pisang. Dimana, aksi tersebut dipercaya sebagai bentuk menghilangkan penyakit yang tumbuh di dalam diri masing-masing.

“Beliau juga memberikan restu dalam bentuk kesehatan,” bebernya.

Sebelum aksi tersebut dilaksanakan, lebih dulu masyarakat disana melakukan persembahyangan di Pura Bale Agung, sebagai wujud siap melakukan saling pukul menggunakan pelepah pisang tersebut. Kemudian, setelahnya dilanjutkan  dengan ngelungsur wangsuhpada (Tirta Suci), supaya penyakit yang berdiam didalam tubuh terlihat.

Setelah itu selesai dilakukan, krama yang akan melakukan aksi tersebut bergegas membuka bajunya, dan langsung mengambil pelepah pisang yang dikumpulkan masing-masing banjar Desa Adat Bugbug. Aksi tersebut bukanlah dilakukan oleh para pemuda saja, melainkan terdapat pula krama yang sudah berkeluarga.

“Hasil pukulan papah itu membuat penyakit menjadi gesar. Makanya setelah selesai, saya suruh jangan pulang dulu, kalau pulang, penyakit itu akan berkumpul lagi. Maka lagi ngelungsur tirta lagi sekali, supaya penyakit yang ada di dalam tubuh itu hilang. Pada saat tubuh kita sudah sehat, kita bisa lagi melaksanakan aktivitas seperti bisa, untuk bisa menghasilkan hasil bumi yang baik, itu filosopinya,” tutupnya.

Menurut salah satu pemuda yang melakukan aksi tersebut, Gilang Dwi, meskipun terdapat bekas-bekas pukulan dari pelepah pisang di punggungnya hingga keluar darah, ia tak merasakan sakit sedikitpun.

“Terasa sakit sih tidak, karena aci, kita jadi lebih bersemangat,” tuturnya.

Ia yang baru dua tahun terakhir baru mengikuti tradisi ini secara langsung pun sangat antusias melakukan tradisi ini. Itu merupakan kemauannya sendiri untuk ikut serta. “Karena aci ini juga bisa menghilangkan penyakit,” imbuhnya. (dir)

  Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #desa adat bugbug #hindu #aci tatebahan #tradisi unik