Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kajang dalam Ritual Kematian sebagai Wahana Atman Menuju Brahman

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 19 April 2022 | 20:10 WIB
KAJANG: Salah satu jenis kajang yang digunakan dalam upacara kematian. Akademisi ISI Negeri Denpasar Dewa Made Darmawan  (ist)
KAJANG: Salah satu jenis kajang yang digunakan dalam upacara kematian. Akademisi ISI Negeri Denpasar Dewa Made Darmawan (ist)
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Upacara kematian di Bali tidak pernah lepas dari penggunaan sarana berupa Kajang. Sarana yang berbahan dari selembar kain putih berukuran sekitar 1,5 meter ini bertuliskan aksara suci sebagai rurub atau selimut bagi jenazah sebelum dikremasi atau dikubur.

Kajang memiliki fungsi yang sangat vital dalam menyelimuti jenazah. Ada juga makna filosofis di balik rerajahan yang ada pada Kajang.

Akademisi ISI Negeri Denpasar Dewa Made Darmawan mengatakan, secara filosofi Kajang adalah simbol wahana atman menuju Brahman (menyatu dengan-Nya), sehingga dapat diartikan bahwa Kajang adalah simbol dari badan jasmani manusia serta simbol pengganti lapisan-lapisan yang membungkus Atman.

Sebagai sarana ritual, Kajang mengandung tiga hal penting. Yakni aspek tantra, mantra, dan aspek yantra. “Kajang artinya ngajangin dalam bahasa Bali, juga bermakna mengantarkan,” jelas pria yang juga kolektor lontar ini.

Darmawan menyebut, ada lima jenis kajang yang dikenal masyarakat Hindu di Bali. Pertama, Kajang Kailasa yang juga disebut sebagai Kajang Klesa. Secara makna, Kajang ini digunakan untuk melepaskan papa klesa yang disebabkan oleh wijnanamaya kosa (lapisan akal budi).

“Kajang ini diyakini melepaskan klesa (kekotoran) sehingga dengan menggunakan Kajang ini mampu mengantarkan Sang Hyang Atma ke alamnya Siwa atau Turyantapada,” imbuhnya.

Kedua, Kajang Kawitan. Kajang ini digunakan untuk melepaskan papa klesa yang melekat pada badan kasar atau Stula Sarira atau Anamaya Kosa. Lapisan badan ini merupakan lapisan paling luar dari tubuh yang terbentuk dan tumbuh dari makanan. Sehingga dapat mencapai alam Jagrapada

Ketiga adalah Kajang Pamijilan yang digunakan untuk melepaskan Pranamaya kosa. Lapisan Pranamaya kosa sebagai sarung vital bagi Atman. Lapisan inilah yang memberikan napas atau energi yang menggerakkan lapisan Annamaya kosa karena lapisan ini merupakan lapisan napas atau prana (energi). “Karena manusia ada akibat prana atau nafsu. Sehingga sampai pada jagat Swarnapada,” paparnya.

Kemudian yang keempat adalah Kajang Arcadana. Ini ibaratnya Atma dalam kondisi tidur pulas, dalam mimpi tidak sadar, tidak ada keinginan. Sehingga untuk menyadarkannya diperlukannya Ngajum Kajang. Karena dia tertidur, sehingga dirayu. “Karena kita akan menghidupkan sendinya. Ada 108 sendi. Sehingga menggunakan sebanyak 108 jarum. Setelah atman tersadar baru bisa menuju dari alam materi ke alam Cetana atau kesadaran,” ungkapnya.

Terakhir atau yang kelima adalah Kajang Sari. Kajang ini biasanya diperoleh dengan memohon dari Ida Pandita Putus. Tujuannya untuk mencapai kesempurnaan. Dengan Atma sudah mencapai kesempurnaan, sehingga dapat membantu pratisentananya.

“Muncul pertanyaan, apakah boleh menggunakan Kajang Sari lebih dari satu? Boleh. Logikanya, semakin banyak yang mendoakan Sang Atman itu maka akan semakin bagus,” katanya.

Dewa Made Darmawan menjelaskan, secara garis besar isi aksara dari Kajang terdiri dari dua aksara. Dasarnya Wreastra dan Swalalita. Tetapi yang digunakan pada Kajang pada umumnya adalah Wijaksara dengan Modre.

Jenis aksaranya mulai dari eka aksara. Seperti aksara suci Ong. Aksara adalah perwujudan dari Ida Sang Hyang Widhi sebagai sumber kehidupan. Ada pula dwi aksara yang terdiri dari aksara Ang dan aksara Ah.

“Ong itu muncul dari suara dentuman. Dari Ong inilah muncul aksara Ang dan Ah. Pada saat itu energi api di pusar. Sehingga yang membakar, semangat. Ada juga energi aksara Ah yang disebut energi kesejukan,” sebutnya lagi.

Kemudian tri aksara, perwujudan dari aksara Ang, Ung, dan Mang. Ada juga panca aksara, panca brahma, panca tirta. Inilah membentuk dasa aksara. Ketika dasa aksara ditambah tri aksara, dwi aksara dan eka aksara jika ditotal menjadi 16 aksara. Inilah inti dari penulisan Kajang.

Sebagai titik sentralnya adalah Ong tertinggi (atas), kemudian Ang, Mang, dan Ung. Hubungan aksara Ong Mang dan Ong Ang dan Mang dan Ung, membentuk sebuah segitiga. Inilah menyimbolkan bapa-akasa atau konsep purusa.

Selanjutnya, dasa aksara yang di bawahnya, panca brahma dan panca tirta. Panca brahma membentuk seperti salib sumbu, sedangkan yang posisinya menyilang atau diagonal adalah panca tirta. Maka yang di tengah-tengah sebagai keseimbangan yakni aksara Ing dan Ya. Kalau dibaca semuanya menjadi Sang Bang Tang Ang Ing Nama Siwa Ya. Inilah membentuk segitiga dengan ujung di bawah. “Ini adalah simbol ibu. Ini menjadi tanda bahwa seluruh energi yang tercipta dari perpaduan antara panca aksara dan dasa aksara,” ungkapnya.

 

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #Ritual Kematian #upacara #hindu #adat bali #Brahman #budaya #Kajang #wahana Atman