Bendesa Adat Bedulu Gusti Ngurah Serana menjelaskan tradisi perang atau siat sampian tersebut merupakan simbol perlawanan dharma atas Adharma untuk memohon kesejahteraan lahir dan batin kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Dan tradisi ini sudah kami gelar secara turun temurun. Juga tercatat dalam purana, sehingga tradisi tidak dibuat-buat, tapi memang sudah dilaksanakan sejak dulu dan menjadi sejarah,” tegasnya sembari mengatakan jika tradisi ini digelar tiga hari setelah puncak karya yang dilaksanakan Sabtu (17/4).
Lebih lanjut ia mengatakan jika siat sampian digelar di areal Jaba Tengah Pura menggunakan jejahitan berupa sampian yang sebelumnya sebagai perlengkapan banten upakara sehingga disebut siat sampian. "Sampian ini dijadikan senjata perang. Dan pengayah yang menjalankan tradisi ini tidak sembarangan. Dalam artinya merupakan orang-orang pilihan yang telah mengikuti sejumlah rangkaian upacara penyucian secara Niskala,” terangnya.
Selanjutnya, pengayah perempuan disebut Permas dan pengayah laki-laki disebut Parekan. Dimana pengayah Parekan yang terlibat bisa mencapai 400 orang. Sedangkan Pengayah Permas lebih sedikit yakni hanya sekitar 35 orang. "Dan semua pengayah dan umat yang Ngayah disini, dasarnya semua Lascarya dengan niat yang tulus ikhlas,” imbuh pria yang juga anggota DPRD Gianyar tersebut.
Adapun tahapan dalam siat sampian tersebut dimulai oleh pengayah Permas yang memiliki waktu dari matahari terbit hingga tengah hari pukul 12.00 WITA. Dimana pengayah Permas melakukan gerakan Nampyog, yaitu menari keliling pura sebanyak 11 kali searah jarum jam. Selanjutnya, pengayah Parekan yang ambil bagian dalam prosesi Ngombak, yaitu menirukan gerakan ombak. Dalam kegiatan Ngombak para pengayah berbaris dengan berpegangan tangan lalu mengikuti gerakan maju mundur di depan pelinggih berulang-ulang kali. Kalau ada komando berhenti baru bisa selesai,” sebutnya.
Iringan gong dan angklung menambah semangat para pengayah. Tahap selanjutnya, satu orang pengayah dapat mengambil satu atau dua sampian. Saat semua pengayah Permas memegang sampian barulah dimulai perangnya. Setiap peserta memandang teman mainnya juga sebagai musuh untuk dikalahkan. Untuk menentukan pemenang dalam pertunjukan ini, dapat dilihat dari pemain yang dapat memukul teman atau lawan mainnya sebanyak 3 kali dengan senjata sampian. Dan setelah menentukan pemenangnya, pertunjukan untuk tahap Pengayah Permas pun diakhiri dan para pengayah menaruh sampiannya kembali ke tempat semula.
Kemudian setelah pertandingan Pengayah Permas selesai, baru lah dilanjutkan dengan pertandingan Pengayah Parekan. Jumlahnya yang mencapai ratusan orang membuat pertandingan berlangsung seru. Mereka saling kejar, saling pukul dan menghindar, ditambah lagi iringan tabuh membuat mereka semakin mengebu-gebu dan menikmati perang tersebut.
“Jadi makna yang terdapat dalam Siat Sampian ini, selain sebagai penghormatan bersatunya sekte-sekte yang ada di Bali, juga sampian tersebut sebagai simbol senjata cakra Dewa Wisnu, yang diartikan juga sebagai simbol perlawanan dharma (kebajikan) atas adharma (kejahatan),” bebernya.
Disamping itu, tradisi ini juga diharapkan dapat membuat masyarakat Desa Bedulu Gianyar agar selalu dilimpahkan kerukunan dan ketenteraman sesama penduduk Desa Bedulu. Setelah berlangsung siat sampian usai, maka Ida Bhatara yang Lunga ke Pura Samuantiga tedun Mapurwa Daksina lalu kembali ke payogan masing-masing. “Setelah itu Ida Bhatara Manca budal ke payogan masing-masing,” tandasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana