Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Akulturasi Hindu Bali-Cina di Pura Pabean, Berawal dari Perdagangan

I Putu Suyatra • Minggu, 24 April 2022 | 16:03 WIB
PURA: Keberadaan palinggih di Pura Pabean, Desa Banyupoh, Kecamatan Buleleng (I Putu Mardika/Bali Express)
PURA: Keberadaan palinggih di Pura Pabean, Desa Banyupoh, Kecamatan Buleleng (I Putu Mardika/Bali Express)
Moderasi dan toleransi seolah istilah yang baru populer pada akhir-akhir ini. Siapa sangka, jika jejak toleransi sudah diterapkan oleh para pendahulu melalui tempat suci. Salah satunya terlihat di Pura Pabean di  Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

PURA Pabean merupakan bagian dari pesanakan Pura Pulaki. Pura ini posisinya persis di sebelah utara Pura Pulaki. Posisinya berada di tepi Pantai Banyupoh. Pujawalinya juga berbarengan dengan Pura Pulaki dan Pesanakan, yakni saat Purnama Sasih Kapat.

Kelian Pangempon Pura Pulaki dan Pesanakan Jro Nyoman Bagiarta mengatakan, secara makna, diartikan sebagai tempat untuk pengenaan pabean terhadap pelaut yang membawa barangnya ke Bali. Sejarah mencatat, kawasan Pabean ini merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang dari luar Bali. Para pedagang ini juga memiliki berbagai latar belakang budaya dan keyakinan.

Tentu saja, hubungan ini pun memberikan corak visual pada bangunan Pura Pabean sebagai perwujudan nyata akulturasi budaya Hindu Bali dan Cina.

Jro Bagiarta menceritakan, keberadaan Pura Pabean ditandai dengan kedatangan para saudagar Madura yang dikomandani orang Tionghoa dan berlayar ke kawasan Teluk Pulaki. Mereka melakukan kegiatan perdagangan di kawasan teluk. Tidak lah mengherankan, di pura ini pengempon sangat meyakini jika Ida Batara yang berstana di Pura Pabean diperkirakan berasal dari Dalem Solo. Kemudian hijrah ke Madura, hingga akhirnya tiba di Pulau Dewata.

“Teluk ini dulu berdasarkan cerita para tetua kami bahwa menjadi ramai kedatangan pedagang luar. Perkembangan pelabuhan perdagangan pada sejak tahun 1411 caka atau sekitar tahun 1489 masehi sejalan dengan keberadaan Pura Pabean di Teluk Pulaki,” tuturnya.

Di Pura Pabean, terdapat pelinggih utama, yakni Ida Batari Dewi Ayu Manik Mas Subandar, atau disebut dengan Geriya Konco Dewi. Palinggih di pura ini dibangun sebagai penghormatan Ratu Agung atau Ratu Ayu Syah Bandar sebagai penguasa pelabuhan. Selain itu, ada juga Palinggih Bathara Baruna, Widiadari, Widiadara, Taksu, Ngelurah, Pengaruman Agung, Bale Paselang, Bale Panggungan, dan Miniatur Klenteng/Pagoda dan sejumlah bangunan lainnya.

“Subandar ini  berarti pelabuhan, dan kata ‘ratu’ yang berarti penguasa. Jadi Ratu Subandar artinya penguasa pelabuhan. Di pura adat ini juga terdapat altar untuk dewa-dewa Tionghoa seperti Buddha, dewa langit, dan Dewi Kwan Im,” paparnya.

Tak hanya diyakini dari sisi niskala. Secara skala juga terdapat penemuan sejumlah peninggalan sekitar tahun 1991 di lokasi Pura Pabean. Selain itu, ada juga penemuan lempengan-lempengan Cina. Temuan ini juga diperkuat dengan ditemukan empat kerangka manusia, kedua peninggalan tersebut diyakini berasal dari Dinasti Yim yang berumur sekitar 2500 tahun SM pada tahun 1994.

Jro Bagiarta menambahkan, Pura Pabean didirikan atas dasar timbal balik masyarakat setempat atau utang jasa para saudagar Tionghoa, yang mengubah Teluk Pulaki menjadi pelabuhan perdagangan.

“Sebagai bentuk penghormatan kepada Ratu Agung atau Ratu Ayu Syahbandar. Pemujaan itu berlanjut hingga hari ini atas jasanya sebagai penguasa pelabuhan ini,” imbuhnya. Editor : I Putu Suyatra
#bali #pura unik #hindu #pura #Pura Pabean #buleleng