Sesuhunan di sana akan tedun setiap rahina kajeng kliwon selama sasih tersebut untuk napak pertiwi di catus pata desa setempat. Artinya, setiap 15 hari dari Sasih Kelima sampai Kesanga, sesuhunan di sana akan tedun untuk masolah.
Bendesa Adat Padangbai I Komang Nuriada menjelaskan, biasanya sesolahan yang mengambil cerita dari babad. Lantaran ada banyak pemundut, setiap pementasan dilakukan oleh pengayah yang berbeda-beda. “Dari cerita babad diambil, seperti perjalanan Nyi Larung, Walunataning Girah,” ujarnya belum lama ini.
Nuriada menambahakan, pelaksanaan tersebut bahkan sudah tertuang dalam awig-awig desa. Ia sendiri tak mengetahui dari kapan itu diterapkan. Bahkan, saking penasarannya, ia sempat menanyakan terkait sesolahan tersebut, tetapi jawaban yang sama didapatkannya, yaitu tidak ada yang ingat. “Dulu waktu tahun 2003, yang paling tua di Padangbai saya datangi, tidak diketahui dari kapan. Karena yang paling tua pun mendapatkan sudah ada,” lanjutnya.
Berbeda dengan pementasan biasanya yang hanya dilakukan di catus pata, untuk pementasan terakhir di Sasih Kesanga, sesuhunan akan mengelilingi desa untuk ngider bhuana. (dir)
Editor : I Putu Suyatra