Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Kisah Magis Godel Berubah Jadi Wadak dalam Ritual Pangeleb

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 6 Mei 2022 | 14:34 WIB
PANGELEB: Prosesi upacara ngaturang Pangeleb di Desa Adat Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli, beberapa waktu lalu. Istimewa.
PANGELEB: Prosesi upacara ngaturang Pangeleb di Desa Adat Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli, beberapa waktu lalu. Istimewa.
BANGLI, BALI EXPRESS - Desa Adat Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli memiliki tradisi Ngaturang Pangeleb atau melepasliarkan anak sapi jantan (godel). Tradisi yang dilaksanakan di Pura Dalem Mecantel ini umumnya karena dilatarbelakangi sesangi atau kaul oleh krama.

Salah seorang warga Desa Adat Selulung Putu Ardiyasa mengatakan, godel yang dilepas yang kemudian disebut Wadak, bahkan ada juga menyebut Duwe, sangat dihormati dan disakralkan masyarakat setempat. Sebab sebelum diliarkan, ada proses upacara yang disebut upacara Pangeleb.

Sampai saat ini belum ditemukan bukti berupa prasasti, lontar maupun babad secara tertulis yang menyebutkan tentang sejarah upacara Pangeleb di desa wilayah Kintamani bagian barat itu. Sejarah hanya berupa cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Namun demikian, tradisi itu tetap lestari.

Dari cerita turun-temurun itu, krama Selulung meyakini jika keberadaan Wadak erat hubungannya dengan kepercayaan yang dianut masyarakat setempat yaitu Hindu Siwa.

“Untuk menunjukkan rasa bakti masyarakat kepada Dewa Siwa, maka dihaturkan sapi jantan Bali sebagai simbolis dari Lembu Nandini tunggangan Dewa Siwa. Selanjutnya sapi tersebut disebut dengan Wadak,” ujar pria yang juga akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini.

Berdasarkan cerita yang diterima dari pendahulunya, Wadak dikaitkan dengan pelaksanaan upacara Raja Homa pada masa pemerintahan Raja Jaya Pangus yang memerintah di Bali sekitar tahun 1099-1103 Caka.

Raja Jaya Pangus adalah raja yang memerintahkan rakyatnya, terutama dalam hal adat istiadat. Kebanyakan prasasti yang dibuat oleh Raja Jaya Pangus memang terkait dengan adat istiadat di desa.

“Wadak itu berasal dari bahasa kawi yaitu warak yang kemudian dalam bahasa Jawa diartikan menjadi badak. Badak ini dikaitkan dengan upacara Raja Homa yang menggunakan badak sebagai hewan kurban,” paparnya, belum lama ini.

Konon, pada saat itu upacara serupa juga dilaksanakan di kawasan Selulung yang disebut upacara Mabiaya. Secara filosofis, upacara ini bertujuan untuk menyeimbangkan Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

Hanya saja, upacara Mabiaya sulit dilaksanakan karena badak tidak ditemukan di Pulau Bali. Solusinya, masyarakat menggantinya dengan hewan yang memiliki ciri-ciri menyerupai badak. Yaitu sapi jantan Bali. “Pertimbangannya karena sama-sama berkaki empat dan bertanduk. Agar sapi tersebut dapat berfungsi sama seperti badak, dilakukan suatu upacara khusus yang disebut upacara Pangeleb,” imbuhnya.

Pada zaman dahulu, Wadak ini akan disembelih pada saat upacara Mabiaya. Hanya saja saat ini upacara Mabiaya sudah tidak dilakukan lagi karena masyarakat percaya adanya kutukan. Dampaknya jumlah Wadak terus bertambah, sementara kemampuan masyarakat menyuplai pakan terbatas. Akhirnya diliarkan agar dapat mencari pakan sendiri.

Pada upacara Pangeleb, godel yang dipilih adalah yang mempunyai ciri-ciri unggul. Seperti bulu kecil tipis yang dikenal dengan bulu geles. Rata-rata berusia muda (umur 6 bulan-1 tahun). Godel harus berwarna merah bata.

Tidak kalah pentingnya, godel juga tidak boleh menderita kelainan fisik, baik pirung, peceng (buta sebelah), perot (pincang) atau dalam kondisi sakit.

Upacara Pangeleb dilakukan dengan memperhatikan padewasa oleh mereka yang akan membayar kaul. Biasanya masyarakat kerap memilih pelaksanaan upacara saat Anggara Kliwon, baik Anggarkasih Julungwangi, Prangbakat dan Dukut.

Ia menegaskan, masyarakat melakukan upacara Pangeleb karena ada beberapa alasan. Pertama karena permohonan yang dikabulkan (kaul), telah dikaruniai anak laki-laki, atau bahkan karena telah menyakiti Wadak yang diliarkan, baik sampai mati atau menjual dalam keadaan hidup.

Masyarakat setempat percaya, apabila salah satu dari alasan tersebut dilanggar, maka masyarakat yang bersangkutan akan mengalami sakit yang berkepanjangan. “Oleh karena itu untuk dapat sembuh dari penyakit yang diderita tersebut masyarakat yang bersangkutan harus melakukan upacara Pangeleb,” ungkapnya.
  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Ritual Pangeleb #bali #Godel Berubah Jadi Wadak #balinese #upacara #Ini Kisah Magis #Selulung-Bangli #hindu #pura #tradisi