Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak Ada Makingsan, Adat Tanjung Benoa Ngaben Massal Tiga Tahun Sekali

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 9 Mei 2022 | 02:54 WIB
Bendesa Adat Tanjung Benoa I Made Wijaya. Putu Resa Kertawedangga/Bali Express
Bendesa Adat Tanjung Benoa I Made Wijaya. Putu Resa Kertawedangga/Bali Express
BADUNG, BALI EXPRESS – Upacara Ngaben merupakan hal yang sangat lumrah dilaksanakan oleh umat Hindu, saat salah satu keluarga meninggal. Khusus di Desa Adat Tanjung Benoa, Kuta Selatan Ngaben ini dilaksanakan secara massal dalam kurun waktu tiga tahun sekali. Seluruh krama diminta untuk mengikutinya, karena biayanya jauh lebih murah dan meringankan beban dari keluarga yang ditinggalkan.

Bendesa Adat Tanjung Benoa I Made Wijaya mengatakan, Ngaben massal ini telah dilakukan secara turun-temurun. Ngaben massal ini pun telah disepakati dilaksanakan dalam kurun waktu tiga tahun sekali. Untuk yang megikuti Ngaben massal adalah seluruh krama, selain Jero Mangku atau masyarakat yang sudah melaksanakan proses Ekajati.

“Dahulu leluhur kami telah membuat kesepakatan saat ada krama yang meninggal akan dikubur sambil mengunggu prosesi Ngaben masal. Ini dilakukan karena kami tidak mengenal prosesi Makingsan ring geni,” ujar wijaya.

Menurutnya, sebelum dirinya menjadi Bendesa Adat, Ngaben massal dilaksanakan oleh panitia yang dibentuk dari seluruh krama yang memiliki sawa. Panitia ini disebut Sekaa Sawa, sedangkan desa adat hanya sebatas mengetahui saja. Tetapi semenjak 9 tahun yang lalu desa adat hadir untuk meringankan beban masyarakat.

“Setelah dikelola desa adat, kami memohon dana dari Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan. Namun kalau tidak mendapatka bantuan, biayanya akan ditanggung dari LPD dan Bupda,” ungkapnya.

Setiap masyarakat yang akan melaksanakan Ngaben, terang pria yang akrab disapa Yonda ini, hanya dikenakan biaya Rp 500 ribu. Besaran biaya itu digunakan untuk seluruh prosesi Ngaben sampai Nyekah massal. Hal ini pun ditujukan agar tidak membebani keluarga yang ditinggalkan.

“Setelah adanya bantuan dana dan dikelola oleh Prajuru Desa Adat, niat masyarakat untuk mengikuti Ngaben massal ini pun semakin meningkat. Sehingga masyarakat yang sudah 'berat' ditinggalkan oleh keluarganya, tidak diberatkan lagi dengan biaya,” terangnya.

Lebih lanjut Anggota DPRD Badung ini juga menambahkan, dengan keringanan biaya nyaris tidak ada warga yang melakukan Ngaben secara sendiri. Untuk prosesi pangabenan menggunakan tinggkatan Prenawa. Hal ini dipilih lantaran berada di tengah-tengah dari keseluruhan tingkatan pangabenan. Bahkan, tingkatan prenawa ini juga digunakan saat pangabenan untuk Jero Mangku.

“Tingkatan ini dipilih karena di Tanjung Benoa kebanyakan masyarakat Jaba. Tetapi intinya tingkatan prenawa ini tidak mengurangi makna dari prosesi Ngaben,” imbuhnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #Desa Adat Tanjung Benoa #adat #hindu #pura #ngaben massal #Makingsan ring Geni #budaya #tradisi #Tiga Tahun Sekali