Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tata Ruang Rumah Adat Tigawasa, Tempat Tinggi Nilainya Utama dan Sakral

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 18 Mei 2022 | 14:35 WIB
BALE : Saka Roras dilengkapi dengan 2 bale (tempat tidur) dan meja tempat pemujaan di antara bale. Kelian adat Desa Tigawasa Made Sudarmayasa. Ist
BALE : Saka Roras dilengkapi dengan 2 bale (tempat tidur) dan meja tempat pemujaan di antara bale. Kelian adat Desa Tigawasa Made Sudarmayasa. Ist
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pemukiman di Desa Adat Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng pada dasarnya dalam satu pekarangan hanya terdiri dari dua bangunan, yaitu bangunan sanggah/merajan dan Saka Roras. Namun tidak menutup kemungkinan mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dikatakan Kelian adat Desa Tigawasa Made Sudarmayasa, rumah adat Desa Tigawasa berorientasi pada konsep tata letak hulu-teben (tinggi-rendah). Peletakan setiap unit bangunan dalam pekarangan rumah tergantung pada fungsi dan nilai kesakralannya.

“Leluhur kami menggunakan hulu teben sebagai konsep tata letak. Ketinggian sebagai nilai utama, sedangkan daerah nistanya pada daerah yang lebih rendah,” ungkapnya.

Semua unit bangunan yang ada dalam rumah masyarakat Desa Adat Tigawasa berorientasi ke natah (teben). Natah merupakan tempat yang paling rendah (teben) lingkungan terbangun, baik dalam rumah/unit hunian maupun desa.

Paling selatan adalah ruang dengan peruntukan bangunan sanggah. Kedudukan lantai sanggah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan Saka Roras, maupun dengan natah dan bangunan lainnya.

Jika di dalam satu unit pekarangan terdapat beberapa kepala keluarga, maka hanya terdapat satu lahan tempat suci, dengan menempatkan sanggah di tempat itu pula. Sedangkan bangunan baru dibangun di area natah atau halaman. Posisinya lebih ke utara bangunan setelah sanggah adalah Saka Roras.

Ia menambahkan hal yang menjadi pedoman dalam orientasi pembangunan rumah adat adalah akses jalan. Bila diperhatikan, maka umumnya posisi jalan merupakan daerah rendah dari pekarangan.

Dikatakan Sudarmayasa, seiring dengan kemajuan zaman dan mulai masuknya pengaruh-pengaruh dari luar dan semakin terbukanya masyarakat desa dengan adanya kemajuan serta dengan adanya regenerasi pemilik rumah dari ayah ke anak, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan adanya perubahan pada pola ruang rumah tradisional Desa Tigawasa.

Generasi yang menempati rumah tersebut memiliki sifat keterbukaan dan pola pikir yang lebih modern. Pihaknya tak menampik, perubahan mendasar yang terdapat pada rumah tradisional adalah adanya letak dapur yang semula berada di dalam Saka Roras kini berada luar Saka Roras, namun masih dalam area pekarangan. Saka berarti tiang, Roras dalam bahasa Indonesia berarti dua belas (12).

Letak atau posisi dapur yang baru di area teben dari Saka Roras baik itu di sebelah kanan, kiri atau depan tergantung dari ketersediaan lahan yang ada dalam pekarangan. “Hal ini mengingat dapur memiliki tingkat kesakralan yang lebih rendah dari Saka Roras. Selain perubahan letak dapur, juga terdapat penambahan bangunan baru, yaitu bangunan untuk kamar tidur anak serta kamar mandi,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Saka Roras #Tempat Ritual #balinese #runah adat #Rumah Tinggal #hindu #pura #Rumah Adat Tigawasa