Tata cara membunyikan kulkul pun harus sesuai dengan tujuan, seperti acara rapat, hingga gotong royong. "Maka, bunyi kulkul adalah tung …tung, tung…tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung, tung… tung," papar Jero Mangku Ketut Gede Kesumawijaya, Senin (23/5).
Anggota Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Kabupaten Gianyar ini memaparkan suara tung yang diakhiri dengan titik-titik diawal dan akhir artinya mengawali pemberitahuan, pangaksama dan mengakhiri, suksma penutup.
"Tung sebanyak sembilan di tengah adalah permakluman kepada seluruh krama yang berlokasi di sembilan penjuru mata angin, agar mendengar pemberitahuan ini," paparnya.
Sementara tung yang di tengah bisa dipersingkat menjadi empat kali. Maknanya pemberitahuan kepada semua warga yang ada di empat penjuru mata angin, Timur, Selatan, Barat, dan Utara, agar mendengar pemberitahuan tersebut
Apabila yang dipanggil adalah krama lanang, maka kulkul yang dibunyikan adalah kulkul lanang. Apabila yang diharapkan krama perempuan, maka yang dibunyikan kulkul wadon.
Apabila yang diinginkan dipanggil krama lanang dan istri, maka kulkul yang dibunyikan keduanya secara bergantian dari yang lanang dulu baru kemudian yang wadon dengan model pukulan yang sama. "Maka dari jenis suara kulkul bisa diketahui kepada siapa suara kulkul itu ditujukan," imbuh Mangku Kesumawijaya.
Sedangkan apabila ada kejadian khusus seperti pancabaya, seperti kebakaran, maka suara kulkul bulus ngempang. Yakni suara kulkul dalam tempo yang cepat, lama, dan tak putus-putus.
"Suaranya, tung, tung, tung, tung, tung, tung, tung, ……… dalam waktu tertentu sampai masyarakat semua keluar rumah ikut membentu. Sama seperti bencana alam seperti gempa, gunung meletus, banjir, dan tradisi nepak kulkul waktu gerhana matahari dan bulan," tegasnya.
Apabila ada orang mengamuk atau ada serangan musuh, maka suara kulkul bulus nerugtug kerungah-rungah. Panik, tergesa-gesa dan terengah-engah. "Suara kulkulnya tung, tung, tung, tung, tung, …… tung, tung, tung, tung, tung …… Dengan tempo yang cepat, menirukan kondisi pikiran dari orang yang nepak kulkul, yakni dalam keadaan panik, ketakutan, tergesa-gesa, terengah-engah," tandasnya.
Apabila acara kematian, maka bunyi kulkul hanya tiga kali, yakni tung …. Tung …. tung…. Sementara suara kulkul di pura pada saat dihaturkan Pujawali, maka suara kulkul banban dan pelan dan temponya teratur.
Demikian pula kulkul di puri suara kulkul banban sebagai penanda ada suatu kegiatan adat dan agama di puri. "Suara kulkul subak, sekaa teruna dan teruni dan sekaa tempekan, sekaa lainnya, tidak ada aturan yang baku. Itu lebih pada kesepakatan dan kesepahaman di antara sekaa pengguna kulkul tersebut sebagai alat pemanggil," imbuh Mangku Kesumawijaya.