Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak Ingin Bercerai, Hindari Menikah pada Hari Berikut Ini

Nyoman Suarna • Rabu, 25 Mei 2022 | 18:27 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Setiap aktivitas keagamaan Hindu di Bali tidak pernah terlepas dari padewasan yang tertuang dalam wariga.

Wariga adalah ilmu pengetahuan tentang sifat atau watak dari wewaran (hari baik dalam melakukan suatu aktivitas), tanggal atau panglong (hari setelah dan sebelum bulan Purnama), wuku (siklus tanggal), ingkel (hari pantangan), sasih (12 masa waktu di Bali) dan lain-lain yang bersumber dari ajaran agama Hindu yaitu Jyotisa Wedangga.

Menurut Wayan Rambler, pakar wariga dalam kanal Youtube Bali Becerita, salah satu aktivitas keagamaan yang menggunakan padewasaan adalah pernikahan.

Penentuan dewasa pawiwahan didasari oleh perhitungan berbagai unsur.

Di antaranya wewaran, pawukon, tanggal, sasih, dan dauh atau biasa diistilahkan dengan wapatangsada.

Katanya, wewaran, pawukon, tanggalnya, sasih, dan dauhnya yang baik akan membawa kebahagian, kesejahtraan dan keharmonisan untuk kehidupan rumah tangga.

Begitu juga sebaliknya, padewasan yang tidak baik akan membawa kesulitan dan kesengsaraan di dalam rumah tangga.

“Apalagi Pasah Tungleh sangat dihindari karena akan ada perpisahan,” jelasnya.

Wayan Rambler mengatakan, meski padewasan yang kurang baik dapat dinetralisir dengan bayuh padewasan, alangkah baiknya jika semua unsur padewasannya baik.

“Kita contohkan dalam membangun. Jika salah satu bahan kurang baik, maka akan berpengaruh pada ketahanan bangunannya,” ujarnya.

Dia menyarankan, jika ada pasangan yang telanjur menikah pada padewasan yang salah, dan telah dibayuh padewasan tidak ada perubahan, maka dianjurkan untuk menikah ulang.

“Dalam artian metanjung sambuknya diulang dengan mencari hari baik,” tandasnya. (*) 

Editor : Nyoman Suarna
#bali #hari baik #pedewasan #dewasa ayu #hindu #cerai #menikah