Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Empat Jenis Pohon Sosial di Tenganan Pegringsingan

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 2 Juni 2022 | 19:03 WIB
Kelian Adat Tenganan Pegringsingan Putu Suarjana. I Putu Mardika/Bali Express.
Kelian Adat Tenganan Pegringsingan Putu Suarjana. I Putu Mardika/Bali Express.
KARANGASEM, BALI EXPRESS -Secara tidak langsung awig-awig (aturan adat) di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem juga mengatur tentang konservasi tanaman yang dilindungi serta keberadaannya dapat digunakan dalam mendukung pelaksanaan ritual.

Hal itu tertuang dalam awig-awig Pasal 14. Dalam pasal itu disebutkan : Mwah wong desa ika sinalih tunggal angeker wit kayu ring sawewongkon desa tenganan pegringsingan, rawuhing sagumin tenganan, luir kayu ne ka keker wit kayu nangka, wit tehep, wit tingkih,wit pangi,wit cempaka, wit duren, wit jaka, ne sadawuh pangkung sabaler desa tan kawasa ngerebah jaka kari mabiluluk.

Yan wus telas beluluk ipun ne ika jaka ne wnang rebah; yan ana amurug angerebah kayu mwah jaka, wnang kang amurug kadanda olih wong desa gung arta 400, tur karebah wnang ka dawut olih desa, manut trap kadi saban.

Sa dangin desa mangraris kagununge kangin tka kawasa angerebah jaka. Mwah yan ana wong desa ne sinalih tunggal, matatunjelan sawawengkone den tinunjel, sagnaha mantu kni nilap wi-witan, miwah papayon saluire tka wnang kang anunjel mangentos kang dadi lap, mwah kang rusak kadi jnar, tur kang anunjel tka wnang kadanda olih kang ngandrue ne rusak, ingan agung alit danda ne, tur wnang namrestista manut trap kadi saban.

Terjemahannya : Dan barang siapapun orang desa itu memelihara pohon kayu di Desa Tenganan Pegringsingan, termasuk di tanah-tanah tegalan Tenganan Pegringsingan, adapun pohon kayu yang dipelihara (maksudnya dipingit dan digunakan untuk hal-hal yang perlu); pohon nangka, pohon tehep, pohon tingkih, pohon pangi, pohon cempaka, pohon durian, pohon enau yang di sebelah barat kali di utara desa di larang menebang pohon enau yang masih berbunga (berbuah), apabila sudah selesai berbuah pohon enau itu dapat ditebang; apabila ada melanggar menebang pohon kayu atau enau, patut yang melanggar di denda oleh desa uang sebesar 400, serta yang di tebang patut di sita oleh desa sesuai seperti yang sudah berlaku.

Di seblah timur desa terus sampai pada bukit di timur dibolehkan menebang pohon enau. Dan apabila ada barang siapapun orang desa melakukan pembakaran di tempatnya dalam wilayah desa, akhirnya kena terbakar pohon-pohonan atau bangunan suci misalnya, maka patut yang membakar mengganti yang terbakar atau yang rusak seperti semula serta yang membakar patut didenda oleh yang empunya kerusakan, sesuai dengan besar kecilnya kesalahan, dan wajib mengadakan pensucian (pembersihan secara adat) sesuai seperti yang sudah berlaku.

Dikatakan Kelian Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Putu Suarjana, dalam sebuah aturan tersebut ada empat jenis pohon sosial yang hasilnya boleh dinikmati oleh siapapun yang mendapatinya dalam keadaan terjatuh terlepas. Seperti  pohon tehep, pohon pangi, pohon tingkih (kemiri) dan pohon durian.

Terkait penggunaan bahan upacara yang berasal dari alam telah diatur. Ini dilakukan untuk menjaga kelestarian alam tersebut. “Intinya selain fungsi pelestarian lingkungan, penerapan awig-awig mampu mendukung keajegan tata ruang. Awig-awig tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sosial budaya, dan religi yang berkaitan dengan tata lingkungan pemukiman, tata pengelolaan sumber daya air dan tata pengelolaan perlindungan hutan,” pungkasnya.

 
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #kelian adat #jaga lingkungan #Awig awig ketat #balinese #Tenganan Pegringsingan #adat #Putu Suarjana #hindu #pura #budaya