Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lestarikan Tradisi Ngejotin Anten dan Nelokin Anak Bajang

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 6 Juni 2022 | 18:31 WIB
Perbekel Kukuh Made Sugianto. Istimewa
Perbekel Kukuh Made Sugianto. Istimewa
TABANAN, BALI EXPRESS- Desa Adat Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, memiliki dua tradisi yang dilaksanakan setiap Hari Raya Galungan. Tradisi itu adalah ngejotin anten bagi pasangan pengantin baru dan nelokin anak bajang (menengok anak gadis).

Perbekel Kukuh Made Sugianto menyebutkan, sampai saat ini kedua tradisi tersebut masih dilakukan oleh masyarakat di Desa Adat Kukuh. Menurutnya, tradisi ngejotin anten ini bermakna untuk memberi motivasi sesuai dengan bawaan yang dibawa ke tempat pengantin. Bawaannya ada beberapa jenis, tergantung dari status kekerabatan dengan si pengantin.

Jika keluarga dekat (sepupu derajat pertama) bawaannya adalah jerimpen be (banten jerimpen yang terbuat dari susunan daging babi). Namun saat ini, biasanya lebih praktis. Keluarga dekat biasanya membawa buah dan daging babi. Jadi di rumah pengantinnya dirangkai untuk ditatab saat Galungan.

Sedangkan untuk krama banjar, biasanya membawa beras, gula dan bawaan lainnya sesuai dengan kemampuan. Untuk balasannya, biasanya keluarga mempelai mempersiapkan balasan berupa, tape ketan, jajanan uli, emping melinjo dan minuman ringan. “Untuk acara ngejotin anten, biasanya dilakukan mulai hari Senin dan Selasa dan di Hari Raya Galungan, si pengantin ini sudah natab banten nekaang-nya,” jelas Sugianto, Minggu (5/6).

Kemudian terkait tradisi nelokin anak bajang, yang diupacarai banten bajang. Biasanya dibawakan perlengkapan make-up, seperti bedak, lipstik, skincare, pembalut, cat kuku dan parfum.

Dibawakannya pembalut ini, menurut Sugianto menandakan jika seorang anak sudah memasuki masa remaja yang ditandai dengan sudah menstruasi. “Ini sesuai dengan nama upacara ketika Hari Raya Galungan, yakni natab banten bajang, artinya anak tersebut sudah memasuki masa akil baliq dan sudah harus melepas masa kanak-kanaknya,” urainya.

Warga mengetahui ada di salah satu keluarga menggelar upacara banten bajang dari mulut ke mulut. Untuk balasannya, warga yang datang saat nelokin anak bajang ini akan mendapat balasan hampir sama dengan tradisi ngejotin anten.

Adapun makna yang terkandung dari upacara banten bajang, ditambahkan Sugianto, adalah rasa syukur sekaligus mendoakan anak gadis menjadi bajang luwih (gadis berbudi) dan upacara banten bajang merupakan pengharapan orang tua kepada anak gadisnya agar melangkah sesuai ajaran agama.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #balinese #upacara #adat #Made Sugianto #Nelokin Anak Bajang #hindu #pura #Perbekel Kukuh #Tradisi Ngejotin Anten