Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dimuat di Prasasti Kuno, Banwa Adalah Desa, Minanga Artinya Sungai

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 6 Juni 2022 | 18:44 WIB
Arkeolog Gusti Ngurah Tara Wiguna I Putu Mardika/Bali Express.
Arkeolog Gusti Ngurah Tara Wiguna I Putu Mardika/Bali Express.
BULELENG, BALI EXPRESS -Nama wilayah atau pun nama karaman di dalam prasasti-prasasti Bali Kuno abad IX-XIV Masehi yang ditemukan di Kabupaten Buleleng disertai dengan penyebutan unsur-unsur geografis. Seperti sungai, bukit, danau, jurang, hutan, dan laut yang bertujuan untuk mengidentifikasi lingkungan fisik.

Arkeolog Gusti Ngurah Tara Wiguna yang juga pensiunan dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana ini mengatakan, penyebutan bentang alam seperti itu bertujuan untuk mempermudah komunikasi antarsesama manusia atau sebagai acuan. Pemberian nama tempat oleh nenek moyang masyarakat Bali Kuno berkaitan erat dengan penggunaan bahasa setempat atau bahasa daerah.

Sebut saja permukiman yang berada di pesisir pantai utara Pulau Bali berdasarkan isi prasasti Bebetin AI (818 Śaka/896 Masehi). Di dalam prasasti itu disebutkan nama sebuah banwa (desa) yaitu banwa Bharu beserta batas-batas desanya.

“Simayangna hangga minanga kangin, hangga bukit manghandang kalod, hangga tukad batang karuh, hangga tasik kadya”. Jika diterjemahkan : batas-batasnya sampai di minanga (bagian) timur, sampai di bukit manghandang (bagian) selatan, sampai di sungai batang (bagian) barat, sampai di laut (bagian) utara.

Bila merujuk kutipan prasasti Bebetin AI (818 Śaka/896 Masehi) tersebut, Desa Bharu merupakan suatu wilayah yang di sebelah utaranya adalah lautan, di sebelah timurnya adalah minanga, di sebelah selatannya adalah bukit manghandang, dan di sebelah baratnya adalah sungai batang.

“Terkait dengan Tukad (sungai) Batang kemungkinan yang dimaksud pada masa itu adalah Sungai Bangka yang sekarang berada di sebelah barat Desa Kubutambahan,” sebutnya.

Kata minanga juga bisa diartikan sungai, dengan sendirinya berarti di sebelah timur Desa Bharu terdapat sungai, yang sekarang dikenal oleh masyarakat sebagai Sungai Aya. Di bagian selatan Desa Bharu adalah perbukitan.

Oleh karena itu, maka wilayah Desa Bharu yang dimaksudkan di dalam prasasti Bebetin AI (818 Śaka/896 Masehi) adalah wilayah perkampungan nelayan yang sampai saat ini masih ada yakni di sebelah utara Desa Kubutambahan pada hilir Tukad Aya.

“Menurut cerita masyarakat nelayan setempat, Tukad Aya pada masa lampau bisa dilalui perahu dari tepi pantai hingga bagian hulu bahkan sampai ke selatan desa Kubutambahan sekarang,” ungkapnya.

Selain prasasti Bebetin AI (818 Śaka/896 Masehi), Prasasti Sembiran AI (844 Saka/922Masehi), Sembiran AIV (987 Śaka/1065 Masehi), dan Sembiran B (873 Saka/951 Masehi), juga memuat keterangan tentang permukiman di pesisir utara Pulau Bali.

Ketiga prasasti Sembiran tersebut menyebut keberadaan Desa Julah, yang sampai saat ini masih ada di Kecamatan Tejakula, Buleleng. Di dalam prasasti Sembiran AI AI (844 Śaka/922 Masehi) yang dikeluarkan oleh Raja Ugrasena disebutkan batas Desa Julah, seperti pada lempeng Ib sebagai berikut. “Simayangna hangga air lutung karuh, hangga duri(lwa)rlwar kalod, hangga air hyang kangin, hanggaampuhan kadya”

Terjemahannya: batas-batasnya, sampai Air Lutung (bagian) barat, sampai Duri Lwarlwar (bagian) selatan, sampai Air Hyang (bagian) timur, sampai laut (bagian) utara.

Di dalam prasasti Sembiran B (873 Saka/951 Masehi) juga disebutkan tentang sekelompok orang yang tinggal di Desa Julah dan bermata pencaharian dalam bidang perdagangan dan mungkin sangat terkait dengan kegiatan pelabuhan. Di dalam prasasti disebut dengan istilah banigrama atau saudagar laki-laki dan babinin banigrama atau saudagar wanita.

Berdasarkan prasasti Sembiran B (873 Śaka/951 Masehi) tersebut dapat diketahui bahwa di Desa Julah pada masa lalu telah terdapat pelabuhan laut. “Pelabuhan tersebut sudah sangat ramai bahkan telah terjadi peristiwa penawanan terhadap alat transportasi laut seperti perahu, jukung, talaka, lancang oleh masyarakat Julah,” pungkasnya.

 

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #Banwa Adalah Desa #balinese #Prasasti Kuno #adat #Gusti Ngurah Tara Wiguna #Minanga Artinya Sungai #hindu #Karakteristik Permukiman di Bali #pura #budaya #Arkeolog