SINGARAJA, BALI EXPRESS - Penggunaan sate dalam ritual Hindu di Bali tidak bisa dilepaskan. Sate sebagai simbol atau nyasa dalam memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa saat pelaksanaan ritual dengan menggunakan berbagai jenis bahan, seperti ayam hingga daging babi.
Sembilan dari tiga belas bentuk sate untuk rirual disebut Sate Galungan atau Sate Panawa Sangan.
Serati Banten, Jro Ketut Utara mengatakan Sate Galungan atau sate Panawa Sangan merupakan sembilan jenis sate yang menjadi simbol sembilan senjata yang dipergunakan Dewi Durga dalam peperangan melawan Kala untuk menegakkan kembali Dharma atau kebenaran.
Baca Juga: Jelang Hari Raya Hindu Galungan, Harga Canang Sari Meroket, Bali Tiap Tahun Impor Gumitir Senilai Rp 30 Miliar
Senjata ini dikumpulkan dari seluruh senjata Dewata Nawa Sanga, yaitu sembilan dewa yang ber-stana di segala penjuru mata angin dan di pusat mata angin alam semesta.
“Sate Galungan atau sate Panawa Sangan ini harus dibuat dari bahan daging babi karena memiliki filosofi khusus sebagai sarana pemujaan Dewi Durga sebagai sakti dari Dewa Siwa,” paparnya.
Ada pula Sate Linggih, sebagai hidangan yang akan disuguhkan kepada roh leluhur atau jamuan kepada para tamu undangan atau orang yang hadir pada upacara agama tersebut
Sate Renteng merupakan rangkaian berbagai olahan jatah atau sate babi yang kemudian membentuk satu kesatuan simbol baru disebut gayah. Sate ini disusun menyerupai gunungan yang dipergunakan sebagai sarana upacara hanya dalam upacara Yadnya besar di Bali.
Umumnya dibuat dari bahan dasar daging babi (celeng), karena gampang diolah juga menjadi simbol Awatara Wisnu. Bahan buah kelapa atau potongan batang pohon pisang sebagai simbol bhuwana agung, dan cabai sebagai simbol taring Dewi Durga.
Baca Juga: H-2 Galungan, Harga Canang Sari, Salah Satu Sarana Upakara Hindu di Bali Tembus Rp 35 Ribu per Bungkus
“Sate Renteng adalah simbol dari energi yang masih bersifat negatif, yang kemudian menjadi positif setelah diberikan puja mantra oleh pendeta dengan diberi laba caru yang ada di bawahnya,” sebutnya.
Selanjutnya Sate Ancak Bingin merupakan salah satu dari berbagai variasi bentuk sate renteng.
Tetap berisi bagian-bagian seperti Kepala babi matang direbus. Dibuatkan hiasan simbar dari babi atau kulit babi yang masih dilekati lemak dan dagingnya. Dipancangi sate galungan sesuai dengan letak stana masing-masing Dewata Nawa Sanga
Sate Panyeneng Bebek merupakan sate galungan ditambah dengan lilit linting dari kulit bebek, yang ditata sedemikian rupa pada sebuah media (sendi).
“Sebagai sendi atau dasar dari sate panyeneng ini adalah kelapa atau potongan batang pisang sebagai simbol bumi atau bhuwana, yang berisi kepala, sayap, kaki, dan ekor dari bebek,”ungkapnya.
Sate Caru, bentuk paling sederhana adalah berbentuk sate lembat, sate calon (pentol) dan sate asem. Namun semuanya dibuat dalam ukuran mini atau sangat kecil. Penggunaan sate caru ini dalam tetandingan disebut ketengan dan ada yang terikat satu sama lain disebut pajegan.
Ketiga jenis sate ini diikat menjadi satu sebagai bahan tetandingan pajegan caru yang melambangkan Tri Kona atau tiga proses dinamika dalam hidup yakni penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan.
Ketiga bentuk sate caru tersebut adalah simbol Sang Kala Tiga Bhucari. Mengenai jumlah sate tetandingan pajegan caru tergantung dari jenis warna hewan sajen caru dan arah penempatannya pada penjuru mata angin.
Kemudian Sate untuk Be atau Ulam Banten, dibuat saat penampahan galungan yang akan disantap saat hari itu dan juga disiapkan untuk di hari Galungan esokan harinya.
“Sate ini merupakan simbol atau yantra Hindu dalam memahami Tuhan yang Tak Terpikirkan (Acintya), Tak Berwujud, Tak Berkepribadian dengan Kemahakuasaan-Nya yang tak terbatas,” tutupnya.