Banten otonan tidak perlu besar atau utama. Namun bisa dibuat sesederhana mungkin dengan sarana yang ada. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah keberadaan banten soda panumadian, dengan ulunya banten pajati.
Dosen Upakara Universitas Hindu Indonesia (UNHI) I Gusti Ayu Artati
Gusti Ayu Artatik menyebut, sarana seperti pisang, jaja, bantal tape, selalu ada di setiap membuat banten. Ditambah buah-buahan yang lain sesuai dengan kemampuannya.
Selain itu, ada pula sarana nasi soda, rerasmen, kacang saur, gerang. Rerasmen ini bisa dilengkapi dengan ayam panggang. Namun, jika tidak ada, cukup diganti dengan telur ayam.
“Dilengkapi juga dengan sampian soda, lekesan. Di lekesan ada unsur daun sirih, pamor dan buah pinang. Ketiganya simbol Tri Murti sama dengan porosan. Kemudian dilengkapi dengan canang atanding. Karena soda penumadian itu lengkap dengan tipat akelan (enam) simbol Sad Ripu, yang seharusnya kita kendalikan secara terus menerus,” jelasnya.
Ada pula sarana berupa panyeneng otonan, beras, benang, jinah bolong. Pada sarana panyeneng ada unsur-unsur tepung tawar, sisik dan lenga. Sama seperti di pajati. Ini adalah simbolis kekuatan Sang Hyang Tri Murti
Selanjutnya, sarana yang tak boleh ketinggalan adalah keberadaan benang tebus berwarna putih. Tujuannya agar mauwat kawat, mabalung besi. Ini adalah harapan agar bisa melewati rintangan, diberikan umur panjang. Sehingga bisa memperbaiki kualitas diri.
Saat natab, yang dilakukan adalah banten pajati dipersembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi sebagai sang Hyang Siwa Guru, sebagai saksi atas hari kelahiran. Persembahkan soda panumadian kepada yang numadi.
Setelah itu, baru dilanjutkan dengan natab, dengan sesapa ata saha, baru menggunakan benang tebus. Selanjutnya sarana peras ditarik oleh yang natab.
“Begitu pemasangan gelang benang tebus putih di pergelangan tangan si empunya otonan, dengan saa : Ne cening magelang benang, apang mauwat kawat mabalung besi. Yang artinya, ini kamu memakai gelang benang, supaya berotot kawat dan berbalung besi,” katanya.
Pemakaian benang tebus saat otonan mengandung makna simbolis, bahwa kata benang mempunyai konotasi beneng yang dapat diartikan lurus. Karena benang sering dipergunakan sebagai sepat atau alat ukur, sehingga membuat lurus sesuatu yang diukur, maknanya agar hati yang maoton selalu ada dijalan yang lurus.
Selain itu, benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus. Makna simbolisnya agar yang maoton memiliki sifat kelenturan hati dan tidak mudah patah semangat.
Lanjutnya, upacara otonan menjadi tidak bermakna kalau hanya untuk pamer kepada orang lain. Dengan upacara otonan diharapkan dapat mengubah perilaku yang tidak benar menjadi tindakan yang santun, hormat, bijaksana dan welas asih baik kepada orang tua, saudara dan masyarakat.
“Otonan yang dilaksanakan dengan sederhana dan tulus ikhlas akan mengarahkan orang, sehingga menjadi anak yang suputra,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya