Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pakar Sanskerta India Buru Koleksi Lontar Museum Gedong Kirtya

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 16 Juni 2022 | 19:27 WIB
LONTAR: Koleksi lontar di Museum Gedong Kirtya mencapai ribuan. I Putu Mardika/Bali Express.
LONTAR: Koleksi lontar di Museum Gedong Kirtya mencapai ribuan. I Putu Mardika/Bali Express.
BULELENG, BALI EXPRESS - Ribuan lontar yang berusia ratusan tahun koleksi Museum Gedong Kirtya, kerap menjadi rujukan bagi pemikir Bali dan peneliti dunia dari tahun ke tahun. Bahkan, Gedong Kirtya membantu dalam perumusan Agama Hindu di era kemerdekaan dan awal terbentuknya parisada.

Filolog Sugi Lanus menyebutkan, pakar Sanskerta ternama berkebangsaan India Prof Raghu Vira, datang ke Bali dengan tujuan utama berkunjung ke perpustakaan lontar Gedong Kirtya di jantung Kota Singaraja, Buleleng pada 8 Agustus 1951.

Raghu Vira adalah tokoh besar India yang kagum dengan Indonesia, khususnya Bali yang dinilainya telah berjasa menyelamatkan lontar-lontar Hindu Nusantara.

Reputasi besar karena ia adalah pakar yang bertumpu atau merujuk langsung pada edisi manuscript kuno yang berisi teks-teks Sanskerta kuno, yang ditemukan budaya Mongolia, Tiongkok, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Timur dan Indonesia.

Beberapa lontar ia peroleh dari salinan atau copy dari Gedong Kirtya. Prof Raghu Vira mengoleksi manuskrip Sanskerta dari berbagai negara di luar India, termasuk lontar-lontar dari Bali. Pemikiran dan riset-risetnya menjadi rujukan para pakar India dalam mempelajari Hinduism.

Raghu Vira ke Buleleng mencari lontar-lontar berbahasa Sanskerta. Ia memang melanglang dunia melakukan pencarian pada kitab-kitab suci Hindu kuno yang tersimpan dan terselamatkan di berbagai tempat di dunia.

Sugi Lanus dalam catatannya menyebut, dari kunjungan ke Gedong Kirtya, Raghu Vira bersaksi bahwa koleksi Museum Gedong Kirtya juga tidak tertandingi.

Di Gedong Kirtya, dengan ditemani I Wayan Bhadra, Raghu Vira mengumpulkan lontar-lontar Bali berbahasa Sanskerta. Lontar-lontar penting berbahasa Sansekerta yang dibawa copy dan atau alihaksaranya antara lain Slokantara, Sarasamuccaya, San Hyan Mahajnana, Sang Hyang Tattvajnana, Gaṇapatitattva, Svara-vyanjaya.

Lontar tersebut selanjutnya digarap, diterjemahkan dengan sangat detail sebagai kajian disertasi dan buku, dalam bahasa Inggris oleh putra, putri, dan menantunya Prof  Lokesh Chandra, Dr Sudarshana Devi, Dr Sharada Rani, yang kesemuanya pakar-pakar besar ahli Jawa Kuno dan Sansekerta kuliah doktoral di bawah bimbingan Prof Jan Gonda, profesor bidang Jawa Kuno dan Sanskerta dari Universitas Utrecht dan Leiden, Belanda.

Gedong Kirtya merupakan titik terpenting dalam sejarah kepustakaan lontar Bali. Dari titik ini para pedanda dan para peneliti Belanda mengumpulkan salinan lontar-lontar dibantu para raja dan cendikiawan Bali dari sebelum kemerdekaan sampai awal kemerdekaan.

Sampai memasuki abad XXI kegiatan terhitung menurun. Menurunnya intensitas keseriusan pemerintah di Bali pada Gedong Kirtya terhitung semenjak pemindahan kota provinsi dan mulai dibuatnya Pusat Dokumentasi Bali, yang juga meminjam berbagai koleksi Gedong Kirtya.

Bahkan, sampai sekarang masih ada pinjaman-pinjaman tersebut belum dikembalikan dan tersimpan di Pusdok. “Dualitas Kirtya dan Pusdok ini sesungguhnya tidak perlu jadi hambatan, malah peluang, tapi kenyataannya keseriusan pemerintah urus Kirtya melemah, bahkan menjadi tempat buangan. Demikian pengakuan banyak pihak yang saya temui di Kirtya,” ujar Sugi Lanus.

Ia menceritakan pendirian Gedong Kirtya adalah dua tokoh kunci. Yakni Herman Neubronner van der Tuuk (23 February 1824 — 17 August 1894) dan F.A.Liefrinck (1853—1927) yang telah bekerja sebagai petugas dan pejabat pemerintahan kolonial Belanda yang mengumpulkan data dan mengoleksi lontar-lontar di Lombok dan Bali.

Dari usaha rintisan mereka berdua ini, kemudian dilanjutkan dengan membentuk tim kurator. Para Resident Bali dan Lombok. Pemikir dan pendeta, antara lain I Goesti Poetoe Mahajoen, Tjokorda Gde Raka Soekawati, Ida Njoman Dangin, Ida Bagoes Tantra, Padanda Gde Anom Manoeaba, Padanda Gde Ketoet Boeroean, Padanda Gde Pamaron, Anak Agoeng Anom, I Njoman Kadjeng, Raden Soedjono, I Wajan Bhadra dan Dr. C. Hookyas.

“Setelah pembangunan jalan dikeraskan dan dibangun jembatan besi di Bali, pembangunan hotel di Denpasar, dan pasanggrahan di perbukitan di Kintamani oleh KPM, para wisatawan mulai mengunjungi Bali. Mereka membuktikan bahwa mereka sangat tertarik dengan naskah-naskah lontar yang ditawarkan orang Bali untuk dijual,” imbuhnya.

Pada tahun 1928, pemerintah menyadari keadaan tersebut, membentuk sebuah yayasan (Kirtya) untuk pelestarian lontar-lontar Bali. Sebuah bangunan tiga kamar didirikan di sudut halaman puri Anak Agung Buleleng.

Tak pelak lagi ribuan pengunjung Bali mendapat kesempatan masuk ke ruang baca. Meskipun mungkin kurang dari satu peneliti asing dalam setahun menggunakan fasilitas yang ditawarkan oleh Kirtya.

“Selama kira-kira enam tahun Kirtya menerbitkan sebuah majalah yang membahas tulisan orang Bali secara berkala untuk para intelektual Bali. Majalah ini bernama Bhawanagara, ditulis dalam bahasa Melayu dan Bali. Mededeelingen yang berbahasa Belanda, yang juga meliput topik Bali, mencapai 14 edisi,” jelasnya.
 
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #Pakar Sanskerta India #adat #hindu #Filolog Sugi Lanus #pura #budaya #tradisi #Koleksi Ribuan Lontar #Museum Gedong Kirtya